7 JURNAL PENATAAN RUANG Vol. 18, No. 1, (2023) ISSN: 2716-179X (1907-4972 Print) DOI : http://dx.doi.org/10.12962/j2716179X.v18i1.12857 Received : 17/02/2022, Reviewed : 02/11/2022, Accepted : 14/04/2023 AbstrakSaat ini keberadaan ruang publik perkotaan di Indonesia mengalami tekanan pembangunan yang sedemikian pesat, hal ini berdampak terhadap kuantitas ruang publik yang terus mengalami penyusutan baik dari segi jumlah maupun luasan. Penciptaan ruang publik di permukiman padat penduduk seperti kampung kota dapat dilakukan melalui dukungan dan peran dari organisasi komunitas yang berpihak pada keadilan dan inklusivitas ruang kota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan mencoba mengeksplorasi peran kepemimpinan perempuan dalam penciptaan ruang komunal di kampung kota di Jakarta Selatan. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa pemimpin perempuan menaruh perhatian besar pada isu-isu terkait kesehatan, lingkungan, dan juga akses ruang publik bagi warga kampung kota yang termarjinalkan. Selain itu dengan didukung keberadaan komunitas dan kolegialitas warga yang solid, maka kehadiran ruang publik demi peningkatan kualitas lingkungan binaan yang mereka tinggali dapat tercapai. Kata KunciKampung Kota, Kepemimpinan, Perempuan, Ruang Komunal. I. PENDAHULUAN ERMASALAHAN perkotaan di Indonesia sangatlah kompleks dan beragam. Salah satunya adalah keberadaan ruang publik perkotaan yang saat ini mengalami tekanan pembangunan yang sedemikian pesat, dan berdampak terhadap kuantitas ruang publik yang terus mengalami penyusutan baik dari segi jumlah maupun luasan. Berkurangnya ruang publik, termasuk didalamnya ruang terbuka hijau turut berimplikasi terhadap kehidupan warga kota, baik itu dari segi ekonomi, sosial-budaya maupun kesehatan [1]-[3]. Karena itulah ruang publik memainkan peranan yang sangat signifikan dalam menjamin kesejahteraan warga kota. Dikarenakan pentingnya peranan yang dimainkan oleh ruang publik perkotaan, maka sudah seyogyanya keberadaan ruang tersebut dapat diakses oleh seluruh warga kota terlepas dari latar belakang yang mereka miliki. Namun pada kenyataannya ruang publik perkotaan di Indonesia belum dapat menjangkau ke seluruh lapisan warga masyarakat, terutama warga berpenghasilan rendah (MBR) yang mendiami kawasan kampung kota [4]. Akses ruang publik bagi warga marjinal masih jauh dari ideal, dimana kawasan tersebut tidak terlayani dengan baik sehingga warga masyarakat tidak memiliki ruang komunal sebagai bentuk perwujudan wadah sosial. Sebagai bentuk jawaban akan terbatasnya akses ruang publik di kampung kota, warga yang menghuni kawasan tersebut mulai mengadakan perlawanan dengan menghadirkan ruang publik secara swadaya. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa sesungguhnya komunitas memainkan peran yang sangat penting dalam penciptaan ruang publik di kawasan marjinal [5], [6]. Produksi ruang publik sebagai ruang komunal pada komunitas marjinal mengindikasikan modal sosial yang tinggi antar warga, dimana dukungan dan peran aktif masyarakat menjamin keberhasilan kegiatan tersebut. Kolaborasi dan komunikasi yang terbangun dengan baik antara para pemimpin masyarakat dan warga juga turut membantu dalam produksi ruang publik di kawasan marjinal, seperti pada kampung kota. Pada artikel ini, peran pemimpin perempuan dalam menggerakkan dan memberdayakan komunitas dalam produksi ruang publik akan dibahas lebih lanjut. Hal ini sejalan dengan pemikiran Vandana Shiva [7], [8] terkait dengan peran signifikan perempuan dalam hal produksi dan pemeliharaan lingkungan binaan. II. PEREMPUAN DAN RUANG KOTA Dalam teori perkotaan kritis pemahaman terhadap gender dan kaitannya dengan proses penciptaan ruang kota belum menjadi perhatian utama bagi para scholars perkotaan. Umumnya representasi gender masih didominasi oleh scholars laki-laki, paruh baya dan berkulit putih, sedangkan scholars yang menyuarakan isu-isu gender minoritas (perempuan, LGBTIQ) seringkali tidak terdengar [9]-[15]. Di Indonesia pun para ahli perkotaan masih didominasi oleh laki-laki. Terlihat dari dominasi laki-laki dalam struktur organisasi Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI). Dari 16 orang yang tercantum dalam Dewan Penasihat IAPI, hanya ada 1 orang perempuan [16]. Ahli tata kota yang menulis buku yang banyak dirujuk di Indonesia pun adalah laki-laki, seperti Hadi Sabari Yunus, Rinaldi Mirsa, dan Ridwan Sutriadi. Dominasi oleh laki-laki ini melahirkan dominasi teori-teori perkotaan dengan perspektif netral gender yang cenderung maskulin sehingga isu-isu yang terkait dengan keberpihakan pada gender minoritas di ruang kota seringkali diabaikan. Contoh dari penataan ruang kota yang maskulin dan tidak ramah perempuan adalah lebar Peran Organisasi Perempuan dalam Ruang Perkotaan Bagas Dwipantara Putra 1,2 dan Hani Yulindrasari 3 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia 2 Visiting Research Fellow, School of Global, Urban and Social Studies RMIT University, Melbourne, Australia 3 Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia e-mail: bagasputra@itb.ac.id P