ISSN : 0852-3681 Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 27 (2): 25 - 34 E-ISSN : 2443-0765 Available online at http://jiip.ub.ac.id/ DOI : 10.21776/ub.jiip.2017.027.02.04 25 Molasses: dampak negatif pada ruminansia Yanuartono, Alfarisa Nururrozi, Soedarmanto Indarjulianto, Hary Purnamaningsih, dan Slamet Rahardjo Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Jl. Fauna No.2, Karangmalang, Depok, Sleman. 55281 Yogyakarta Tel: +62-274-560862, Fax +62-274-560861 Corresponden author : yanuartono20@yahoo.com ABSTRACT: Molasses is a by-product or end product of sugar cane (Saccharum offic- cinarum L.) or sugar-beet (Beta vulgaris L. var. Conditiva) resulting from the manufac- ture of raw or refined sugar and consisting of structural sugars, hemicelluloses and min- erals. It is mainly used to improve appetite of animals or add extra energy when prices of molasses are lower than that of other energy sources. Molasses can be a key ingredi- ent for cost effective management of feeds and pastures. Supplementing poor quality feeds with molasses will increase feed intake and improve palatability. However, mo- lasses can be toxic if fed at ad libitum or free for choice, therefore, it is recommended that molasses should be supplemented in a restrictive form. These molasses poisoning papers and the negative impacts arose from long-standing studies because the poisoning is now rare. However, although this time is rare but did not close the possibility will ap- pear again, Especially if given in an uncontrolled amount. Thus, this paper aims to re- mind users of molasses in the livestock industry to be wiser in their use. Key words: Key words: molasses, sugar cane, palatability, toxic PENDAHULUAN Molasses pada awalnya adalah istilah yang digunakan untuk berbagai produk samping yang berasal dari tanaman dengan kandungan gula yang tinggi, berbentuk cairan kental serta berwarna coklat gelap. Akan tetapi istilah tersebut saat ini lebih banyak digunakan sebagai produk samping dari tanaman tebu atau bit (Perez, 1983). Di Indonesia, Molasses hasil pengolahan gula tebu tersebut dikenal dengan nama tetes tebu. Molases mengandung sukrosa, glukosa, fruktosa dan rafinosa dalam jumlah yang besar serta sejumlah bahan organik non gula (Baker, 1981; Valli et al., 2012). Molasses memiliki kandungan mineral kalsium (Ca), kali- um (K), magnesium (Mg), natrium (Na), klor (Cl), dan sulfur (S) yang tinggi tetapi fosfor (P) serta protein kasar sangat rendah (Chapman et al., 1965; Curtin, 1973, Senthilkumar et al., 2016). Dengan demikian, meskipun kekurangan P, molasses tetap merupa- kan sumber energi dan mineral yang baik jika digunakan sebagai suplemen pakan ternak. Selain itu, molases sering ditambahkan ke dalam ransum untuk meningkatkan palatabilitas (Verma, 1997), aktivitas mikroba rumen, sintesis protein mikroba dan menurunkan jumlah unsur debu dalam pakan kering (Perry et al., 1999; daCosta et al., 2015). Namun demikian, molasses akan berdampak negatif jika pemberiannya pada ternak tidak terkontrol atau ber- lebihan. Dampak negatif tersebut antara lain adalah bersifat toksik jika diberikan secara ad libitum sehingga pemberiann-