Jurnal Ilmiah Unklab Vol 15. No. 1 Juni 2011 ISSN: 1411-4372 Respon Pertumbuhan dan Produksi Sawi Hijau (Brassica Juncea L) Terhadap Pemberian Em-4 Imanuel Montolalu* Fakultas Pertanian Universitas Klabat Respon pertumbuhan dan produksi sawi hijau ( Brassica juncea L) terhadap pemberian EM-4,. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi sawi hijau terhadap pemberian EM-4, serta untuk mendapatkan dosis EM-4 yang tepat untuk pertumbuhan dan produksi sawi hijau. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan lima tingkat perlakuan yaitu: E0 tanpa perlakuan EM-4 sebagai control, E1=5 ml EM-4/L larutan, E2=10 ml EM-4/L larutan, E3=15 ml EM-4/L larutan, dan E4=20 ml EM-4/L larutan dan diulang sebanyak empat kali. Dosis EM-4 mempengaruhi tinggi dan jumlah daun sawi hijau dan tidak mempengaruhi berat segar sawi hijau. Dosis EM-4 yang terbaik adalah 20 ml EM-4/L larutan. Key words: pertumbuhan, sawi hijau, perlakuan LATAR BELAKANG Sayuran merupakan komoditi yang berprospek cerah, karena dibutuhkan sehari hari dan permintaannya cenderung terus meningkat, sebagaimana jenis tanaman hortikultura lainnya. Kebanyakan tanaman sayuran mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi. Kenyataan ini, dapat dipahami sebab sayuran senantiasa dikonsumsi setiap hari, konsumennya mulai dari golongan masyarakat kelas bawah hingga golongan masyarakat kelas atas. Sawi hijau adalah salah satu jenis sayuran yang banyak di budidayakan oleh masyarakat Indonesia. Karena cara budidaya yang sederhana dan efisien (Margiyanto, 2008). Sawi hijau merupakan sayuran yang bersifat musiman dan banyak dibudidayakan karena untuk keperluan makanan, obat, ataupun lainnya (Cahyono, 2003). Menurut Haryanto (2001) bahwa sawi hijau selain sebagai bahan pangan, juga dipercaya dapat menghilangkan rasa gatal ditenggorokan pada penderita batuk, berfungsi sebagai * alamat korespondensi: rmontolalu@yahoo.com penyembuh sakit kepala dan mampu bekerja sebagai pembersih darah. Sawi hijau berasal dari wilayah tengah Asia, dekat pengunungan Himalaya (Rubatzky dan Yamaguchi, 1998). Masuknya sawi dan petsai ke Indonesia diduga pada abad XIX bersamaan dengan lintas perdagangan jenis sayuran sub-tropis lainnya terutama kelompok kubis-kubisan, daerah penyebaran petsai adalah di dataran tinggi, sedangkan sawi berkembang didataran rendah maupun tinggi yang telah dikenal daerah pertaniannya (Rukmana, 1994). Sawi hijau sudah sangat populer di masyarakat dan termasuk komoditas yang digemari oleh masyarakat. Kebutuhan pangan cenderung meningkat sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk (Anonim, 2011 a ). Data Badan Pusat Statistik (BPS), Sulawesi Utara menunjukkan produksi tanaman petsai/sawi di Indonesia tahun 2007 sebesar 564.914 ton, dan tahun 2008 naik menjadi 565.636 dan tahun 2009 turun menjadi 562.838. Penurunan produksi pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 0,5 % (tabel 1). Menurut data Dinas Pertanian dan Peternakan Sulawesi Utara, melalui bidang pangan dan hortikultura bahwa daerah sentra