ISSN 2527-9734 Pariwisata Budaya: Jurnal Ilmiah Pariwisata Agama dan Budaya EISSN 2614-5340 http://ojs.uhnsugriwa.ac.id/index.php/parbud MITOS TENGET DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HUTAN DI PURA PUSER SAAB NUSA PENIDA, BALI Nyoman Sudipa 1 1 Pascasarjana Universitas Mahasarasati Denpasar, Email: nyoman_sudipa@yahoo.com ABSTRAK Lingkungan Hutan Pura Puser Saab terletak di Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Mitos tenget mampu melestarikan keberadaan hutan karena adanya relasi dan kuasa simbolik dari interaksi antara masyarakat dengan lingkungan hutan. Penghormatan terhadap lingkungan hutan dilakukan dengan ritual dan menjaga hutan sebagai bentuk personifikasi alam dan tubuh manusia. Sakralisasi hutan sebagai modal sosial untuk kebelanjutan hutan dan kelangsungan hidup masyarakat. Mitos tenget sebagai bentuk penghormatan dan cara komunikasi masyarakat dengan alam dan lingkungan. Adanya Tri Hita Karana sebagai sebagai konsep harmoni untuk menjaga keutuhan lingkungan Hutan Pura Puser Saab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan responden dari tokoh-tokoh di sekitar hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kearifan lokal masyarakat di Sekitar Pura Puser Saab dalam melestarikan lingkungan hutan. Metodologi menggunakan pendekatan kualitatif dan pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terstruktur. Pemilihan responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Mitos tenget merupakan bentuk perlindungan terhadap lingkungan hutan di Pura Puser Saab. Personifikasi alam seperti tubuh manusia dan memanusiakan alam menjadikan hutan sebagai relasi sosial dan modal sosial bagi masyarakat. Tenget adalah proses sakralitas yang dibangun sebagai bentuk penghormatan dan komunikasi masyarakat dengan lingkungan hutan. Rekomendasi penelitian ini adalah memperkuat kearifan lokal sebagai modal sosial dan spiritual. Kata Kunci: harmoni, hutan, lingkungan, sakralisasi, tenget ABSTRACT The Puser Saab Temple Forest environment is located in Nusa Penida District, Klungkung Regency. The myth of tenget is able to preserve the existence of the forest because of the relation and symbolic power of the interaction between the community and the forest environment. Respect for the forest environment is carried out through rituals and protecting the forest as a form of personification of nature and the human body. Forest sacralization as social capital for forest sustainability and community survival. The myth of tenget is a form of respect and a way of communicating with nature and the environment. The existence of Tri Hita Karana as a concept of harmony to maintain the integrity of the Pura Puser Saab Forest environment. This study uses a qualitative approach with respondents from figures around the forest. This study aims to analyze the local wisdom of the community around Pura Puser Saab in preserving the forest environment. The methodology uses a qualitative approach and data collection is done