SIMULASI DAN DISAIN ALAT PELUBANG TANAH SEMI MEKANIS UNTUK MENANAM KENTANG (Solanum tuberosum L.) Renny Eka Putri, Muhammad Mizwardi, Irriwad Putri Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas Email: rennyekaputri@ae.unand.ac.id ABSTRAK Dalam budidaya tanaman kentang, petani masih banyak menggunakan lubang tanam untuk penanaman kentang, dimana alat untuk pelubang tanam tersebut masih didominasi oleh alat-alat sederhana yang kurang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah alat pelubang media tanam yang memiliki kedalaman dan diameter lubang tanam yang tepat pada tanaman kentang. Tahapan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu, perencanaan, pengembangan konsep, pembuatan alat, uji kinerja alat, dan analisis terhadap alat yang dirancang. Pengujian dilakukan pada lahan 50 m², dimana dibagi menjadi 6 demplot, dimana 3 demplot untuk pengujian alat pelubang tanah untuk media tanam kentang dan 3 demplotnya lagi menggunakan cangkul. Kapasitas kerja efektif dan kapasitas kerja teoritis yang didapatkan dengan menggunakan alat masing-masing bernilai, yaitu 0,0125 ha/jam dan 0,0150 ha/jam. Kapasitas kerja efektif dan kapasitas kerja teoritis yang didapatkan menggunakan cangkul masing-masing bernilai, yaitu 0,0124 ha/jam dan 0,0149 ha/jam. Effisiensi yang didapatkan dengan menggunakan alat yaitu 83,30 %. Lubang tanam yang dibuat menggunakan alat pelubang memiliki pertumbuhan tinggi yang lebih baik dibandingkan cangkul. Biaya pokok yang didapatkan, untuk perancangan alat pelubang tanah untuk media tanam kentang, didapatkan sebesar Rp. 24,02/lubang. Kata kunci – alat pelubang; kentang; pengembangan alat PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang menghasilkan berbagai macam hasil pertanian tropis, salah satunya adalah kentang. Tanaman kentang (Solanum tuberosum L.) menghasilkan umbi sebagai komoditas sayuran, yang diprioritaskan untuk dikembangkan dan berpotensi untuk dipasarkan di dalam negeri maupun luar negeri. Pengembangan alat mesin pertanian sangat penting diterapkan baik untuk budidaya maupun pascapanen (Putri, 2022). Tanaman kentang merupakan salah satu penunjang program diversifikasi pangan, untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Menurut Kementrian Pertanian (2018), produksi kentang di Indonesia pada tahun 2018 adalah sebanyak 1,18 juta ton, dengan kenaikan sekitar 2% dari tahun 2017 dengan produksi kentang sebanyak 1,16 juta ton. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat adanya peningkatan jumlah produksi tanaman kentang di Indonesia. Daerah yang baik untuk menanam kentang adalah dataran tinggi dengan ketinggian 1500-3000 mdpl, didataran medium, dan untuk tanaman kentang ditanam pada ketinggian 500-800 mdpl ( Sumardi, 2019 ). Menurut Rukmana (1997), iklim yang baik untuk menanam kentang memiliki suhu rata-rata harian 15- 20º C, dengan curah hujan 200-300 mm perbulan atau rata-rata 1000 mm, dengan kelembapan udara 80-90 % yang cukup mendapat sinar matahari. Selain kedalaman pada pelubangan juga harus diperhatikan jarak tanaman, untuk tanaman kentang yaitu 80 cm x 40 cm atau 70 cm x 30 cm dengan bobo tumbi 30-45 gr (Suryana, 2013). Penanaman biasanya di Indonesia dilakukan menggunakan alat tanam konvensional atau biasa disebut tugal yang dimana model penanaman ini membutuhkan waktu yang lama (Kristianto, 2016). Petani Indonesia pada umumnya banyak menggunakan lubang tanam untuk penanaman kentang, dimana alat untuk pelubang tanam tersebut masih didominasi oleh alat-alat sederhana yang kurang efektif, serta penggunaannya yang tidak praktis. Hal ini dikarenakan lubang yang terbentuk dari alat tersebut terlalu besar ataupun terlalu kecil, serta kedalaman yang dihasilkan tidak tepat. Jika lubang dibuat terlalu dalam, maka kecambah yang ditanam akan kekurangan oksigen, dan apabila kekurangan oksigen maka respirasi akan terhambat, sehingga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan benih. Petani pada umumnya membuat lubang tanaman kentang dengan ukuran 7-10 cm dengan kedalaman 10-15 cm (Sunarjono, 1975). Menurut Hajad (2021), tugal dan penanam jagung modern memiliki sistem kerja yang hampir serupa, yaitu memerlukan sistem pembuat lubang, saluran benih, penjatuh benih, dan