PENTINGNYA KARAKTERISTIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DALAM MENUNJANG PEMAKSIMALAN PERANYA Tuti Wantu, Dikma Wulan Sari, Prawika Potabuga Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo Kepribadian konselor adalah titik tumpu penyeimbang antara pengetahuan tentang dinamika perilaku dengan keterampilan terapeutik. Apabila titik tumpunya kuat, pengetahuan dan keterampilan akan bekerja dengan seimbang, sehingga menghasilkan perubahan tingkah lakuyang positif dalam konseling. Apabila titik tumpunya lemahyaitu kepribadian konselor tidak menunjukkan sifat suka membantupengetahuan dan keterampilan konselor tidak dapat digunakan secara efektif atau justru akan menganggu proses konseling. Konselor memegang peran yang signifikan dalam mendampingi individu mengatasi berbagai tantangan emosional, psikologis, dan sosial. Dalam konteks pendidikan, karier, dan kesehatan mental, konselor bertanggung jawab membimbing individu menuju potensi penuh mereka dan menghadapi berbagai rintangan. Untuk menjalankan perannya dengan efektif, konselor harus memiliki karakteristik, kompetensi, dan pemahaman yang mendalam tentang peran mereka. Anthony Yeo (2007) mengemukakan bahwa konseling akan berlangsung secara efektif, apabila konselor memiliki pengetahuan dasar tentang teori dan praktik konseling, kemahiran dalam wawancara, dan keterampilan intervensi dalam memecahkan masalah. Selanjutnya dia mengemukakan tentang karakteristik konselor itu sebagai berikut. 1. Beliefs Beliefs. Ini menyangkut keyakinan atau pandangan konselor mengenai kehidupan, orang, dan masalah. Dalam hal ini konselor diharapkan memiliki pandangan yang optimistik tentang hidup, bersikap altruistik terhadap orang lain, dan bersikap realistik dalam menghadapi kenyataan hidup dan masalah-masalah yang dialaminya. Kualitas konselor tersebut sangatlah sesuai dengan agama. Berdasarkan alasan tersebut, bukanlah hal yang luar biasa apabila banyak konselor yang beragama. Bahkan di belahan benua Asia, para helper professional (konselor) pada umumnya memiliki keyakinan beragama (memeluk agama). 2. Self-awarness. Konselor diharapkan memiliki kesadaran diri, seperti terkait dengan nilai-nilai atau keyakinan-keyakinannya, masalah atau kesulitan yang dialaminya, dan tingkat kesabarannya.