Konsep Taubat Menurut Imam Al-Ghazali.... ISSN: 2477-5711, E-ISSN: 2615-3130 KONSEP TAUBAT MENURUT IMAM AL-GHAZALI DALAM KITAB MINHAJUL ‘ABIDIN Ali Ridho Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta E-mail: ridhoali975@gmail.com/HP. 0896-7606-1927 Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). menggunakan pendekatan filosofis, karena yang dikaji adalah pemikiran Imam al- Ghazali dalam kitab Minhajul ‘Abidin. Pengumpulan data dibagi menjadi dua yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh dari kitab Minhaj Al-‘Abidin, sedangkan sumber data sekunder dari buku, jurnal, artikel, disertasi, tesis hingga laman website dan lain sebagainya yang berguna untuk membantu dalam penulisan penelitian ini. Setelah data dikumpulkan, kemudian data dianalisis dengan teknik Miles and Huberman yang terdiri dari tahap reduksi data, penyajian data, atau analisis, kemudian tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menyimpulkan: Pertama, konsep taubat menurut Imam al- Ghazali dalam kitabnya Minhajul ‘Abidin dibagi menjadi 4 (empat) yaitu: Pertama, penjelasan mengenai pengertian taubat dan keharusan melakukannya. Kedua, syarat- syarat dalam melakukan taubat beserta rukun-rukun yang harus dipenuhi. Ketiga, mukaddimah (pendahuluan) sebelum melakukan taubat. Dan yang keempat adalah pembagian dan jalan meloloskan diri dari dosa. Kedua, Pembahasan mengenai taubat yang lebih dalam dan luas, harus merujuk kepada kitab-kitab karya beliau (Imam al- Ghazali) yang lainnya. diantaranya adalah karya agung Imam al-Ghazali yaitu kitab Ihya ‘Ulumiddin, kemudian kitab Al-Qurbah dan yang terakhir adalah kitabAl-Ghoyat Al-Quswa. Keywords: Taubat, Imam al-Ghazali, Minhajul ‘Abidin PENDAHULUAN Taubat sejatinya merupakan pintu masuk bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, sebab di dalam taubat ada penyesalan terhadap perbuatan tercela yang telah dilakukan di masa silam sekaligus terdapat daya tari (ikhtiar) kebangkitan jiwa dari seorang hamba untuk bebuat kebaikan di masa yang akan datang. Salah satu alasan inilah mengapa kemudian konsep taubat Imam al- Ghazali menarik untuk dilakukan pembahasan. Bertaubat dengan segera adalah tuntutan bagi seorang mukmin sejati. Tidak boleh menunda-nunda taubat (ta’khir) atau menangguhkan (tawsit) taubat, karena menurut Yusuf Qardhawi, hak tersebut dapat mengganggu hati orang yang beragama. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by E-Jurnal UIN (Universitas Islam Negeri) Alauddin Makassar