JURNAL TEKNIK ITS Vol. 11, No. 2, (2022) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) G7 Abstrak—Anjungan lepas pantai minyak dan gas memiliki masa pakai antara 20-25 tahun. Saat anjungan telah mencapai batasan operasionalnya anjungan harus di bongkar (decommissioning). Ada berbagai kriteria untuk membongkar platform dan 4 metode decommissioning platform yaitu Complete Removal, Partial Removal, Toppling in Place, dan Leave in Place. Aktivitas decommissioning memiliki risiko kecelakaan yang tinggi dan berdampak kepada lingkungan maupun keselamatan manusia. Oleh karena itu, diperlukan analisa pemilihan metode decommissioning yang tepat dan analisis resiko pada proses decommissioning platform. Studi kasus penelitian ini adalah platform X milik PT. PHE ONWJ. Penelitian dilakukan analisis pemilihan metode decommissioning yang tepat menggunakan Analytic Hierarchy Process (AHP) serta analisis resiko pada proses decommissioning. Hasil dari penelitian didapatkan metode decommissioning yang tepat adalah Complete Removal yang ditentukan berdasarkan 4 kriteria yaitu Environmental, Cost, Legal, dan Security.Kegiatan yang paling beresiko pada saat proses decommissioning metode Complete Removal adalah tahap Platform Preparation. Kata Kunci—Analytic Hierarchy Process (AHP), Decommissioning Jacket Platform, Risk Analysis. I. PENDAHULUAN NDONESIA merupakan salah satu negara penghasil minyak mentah di dunia, terbukti dulu Indonesia merupakan salah satu dari anggota Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) sebelum keluar pada tahun 2008 dikarenakan sudah tidak dapat memenuhi kuota minimal [1]. Kebutuhan akan energi, bahan baku industri, dll menyebabkan kebutuhan minyak semakin melonjak. Oleh karena itu, perlu membangun struktur anjungan lepas pantai (Offshore Platform) untuk menunjang kebutuhan minyak yang melonjak. Anjungan lepas pantai dibagi menjadi 2 macam, yaitu yang tertancap didasar laut (Fixed Platform) dan yang dapat mengapung (Floating Platform). Fixed Platform adalah struktur yang ditopang menggunakan struktur jacket. Platform ini paling banyak digunakan di Indonesia karena perairan Indonesia memiliki kedalaman yang relatif dangkal. Kandungan minyak dan gas bumi di daratan dan laut dangkal semakin menipis sehingga kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan kegiatan tersebut juga dilakukan dilaut dalam [2]. Biasanya struktur anjungan minyak dan gas memiliki masa pakai antara 20-25 tahun [3]. Saat platform telah mencapai batasan operasionalnya, sesuai dengan peraturan menteri ESDM nomor 1 tahun 2011 Platform haruslah dekomisioning sesuai dengan standar teknis yang ada [4]. Platform decommissioning adalah menghentikan operasi dari bangunan lepas pantai. Tujuan dilakukan pembongkaran yaitu menjamin keselamatan minyak dan gas bumi, keselamatan lingkungan, menjaga kondisi instalasi sebagai milik negara, menjaga keselamatan pelayaran, dan mengoptimalkan penggunaan barang milik negara [5]. Ada 4 metode decommissioning platform yaitu dengan Platform Complete Removal, Platform Partial Removal, Platform Toppling in Place, dan Platform Leave in Place. Dalam memilih metode decommissioning diperlukan beberapa pertimbangan dan kriteria untuk mendapatkan metode yang paling tepat. Multi Criteria Decision Making (MCDM) adalah teknik pengambilan keputusan dari beberapa pilihan alternatif yang ada [6]. Salah satu bagian dari MCDM adalah AHP. Analytical Hierarchy Process (AHP) adalah salah satu metode pengambilan keputusan dari teknik MADM dengan menyusun banyak kriteria yang kompleks menjadi suatu hierarki yang terstruktur dan sistematis. Disamping itu, Aktivitas decommissioning yang dilakukan pada wilayah lepas pantai memiliki risiko kecelakaan yang tinggi dan berdampak kepada lingkungan maupun keselamatan manusia. Risiko merupakan kombinasi dari probabilitas kejadian dan konsekuensi dari kejadian tersebut, dengan tidak menutup kemungkinan bahwa ada lebih dari satu kejadian, dan konsekuensinya bisa merupakan hal positif maupun negatif. Sehingga diperlukan analisis resiko untuk mengidentifikasi bahaya selama proses decommissioning platform. Untuk menyelesaikan permasalahan dan memenuhi tujuan diatas, pada penelitian ini penulis ingin meneliti pemilihan metode decommissioning Platform X milik PT. PHE ONWJ yang paling tepat menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dan menghitung estimasi durasi & biaya proses metode decommissioning terpilih. Dilanjutkan mengidentifikasi resiko serta melakukan pencegahan terjadinya kecelakaan pada saat proses decommissioning platform menggunakan metode kualitatif. II. URAIAN PENELITIAN A. Studi Literatur Studi literatur dilakukan dengan mencari, mengumpulkan, dan mempelajari dasar teori serta studi pustaka dari buku, paper, jurnal, tugas akhir, maupun regulasi baik nasional atau internasional serta referensi lain yang berkaitan dengan topik penelitian. Tujuannya adalah meningkatkan wawasan sebagai dasar teori untuk mendukung penelitian penulis. Adapun studi literatur yang dilakukan penelitian ini mengenai Offshore Platform, Decommissioning, Multi Criteria Pemilihan Metode Decommissioning Struktur Jacket Platform dengan Analytic Hierarcy Process (AHP) Akabrito Amsal Dewa Saujana, Yeyes Mulyadi dan Daniel Mohammad Rosyid Departemen Teknik Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: yeyes@oe.its.ac.id I