Penerapan Indikator Mutu Klinik "Kepatuhan Kebersihan Tangan" di Klinik Gigi Pratama Dentes Rona Dian Bimantari, Mariska Urhmila Pascasarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Pendahuluan Klinik gigi merupakan sarana fasilitas kesehatan tingkat pertama yang melaksanakan upaya-upaya kesehatan. Klinik gigi berisi dokter gigi, perawat gigi, front office, house keeping dan supervisor yang bekerjasama satu sama lain dalam melayani pasien. Pelayanan di klinik gigi memiliki resiko penularan penyakit melalui prosedur, tindakan maupun peralatan. Penularan infeksi ini melalui droplet, darah, saliva dan instrumen yang terkontaminasi (Volgenant & de Soet, 2018). Kondisi COVID-19 beberapa tahun lalu membuat kegiatan pelayanan gigi dan mulut menjadi kegiatan yang beresiko dikarenakan pemeriksaan gigi menimbulkan percikan air liur maupun darah (Tanaka et al., 2020). Penyakit infeksius selain COVID-19 yang beresiko ditimbulkan dari pelayanan gigi adalah Hepatitis B, Hepatitis C, dan HIV/AIDS (Al-Shamahy, 2018). Sehingga dengan adanya kondisi tenaga kesehatan gigi yang rentan terkena infeksi, perlu adanya tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi dalam fasilitas kesehatan gigi dan mulut. Pemerintah Indonesia menghimbau kepada seluruh tenaga kesehatan untuk melakukan upaya pencegahan diantaranya melakukan cuci tangan dan penggunaan APD. Hand hygiene adalah istilah yang digunakan untuk kegiatan mencuci tangan. World Health Organization (WHO) menciptakan global patient safety challenge dengan clean care is safe care, yaitu merumuskan inovasi strategi penerapan hand hygiene, yaitu untuk petugas kesehatan dengan my five moment for hygiene, yaitu melakukan cuci tangan sebelum bersentuhan dengan pasien, sebelum melakukan prosedur bersih dan steril, setelah bersentuhan dengan cairan tubuh pasien, setelah bersentuhan atau kontak dengan pasien, setelah bersentuhan dengan lingkungan sekitar pasien. Kepatuhan cuci tangan tenaga kesehatan secara signifikan dapat menurunkan infeksi terkait perawatan kesehatan (health care acquired infections/HAI) (DePaola & Grant, 2019) Menurut data WHO, rata-rata 1 di antara 10 orang pasien terkena HAI di seluruh dunia dan jika dikaitkan dengan kebersihan tangan didapatkan sebanyak 61% tenaga kesehatan tidak mematuhi praktik cuci tangan sesuai yang direkomendasikan WHO. Berdasarkan hasil penelitian (Zhou et al., 2020), kepatuhan perilaku cuci tangan tenaga kesehatan saat Covid-19