Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Multimedia 2014 STMIK AMIKOM Yogyakarta, 8 Februari 2014 ISSN : 2302-3805 1.14-1 PURWARUPA TANGIBLE CULTURAL HERITAGE KATEGORI CAGAR BUDAYA TAK BERGERAK BERBASIS DATABASE MULTIMEDIA Khafiizh Hastuti 1) , Erwin Yudi Hidayat 2) 1), 2) Teknik Informatika Universitas Dian Nuswantoro Semarang Jl. Nakula I No. 5-11 Semarang Email : afis@dsn.dinus.ac.id 1) , erwin@dsn.dinus.ac.id) 2 Abstrak Warisan budaya terbagi menjadi warisan budaya yang dapat diraba (tangible cultural heritage) dan tidak diraba (intangible cultural heritage). Tangible cultural heritage adalah benda hasil karya manusia yang dapat dipindahkan atau bergerak, maupun yang tidak dapat dipindahkan atau tidak bergerak. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah telah mendokumentasikan warisan budaya secara manual yang rentan dengan kerusakan. Proses pendataan dan perekaman mengalami kesulitan yang sangat tinggi karena sumber data yang melengkapi sebuah koleksi masih banyak tersebar dan belum terorganisasi dengan baik. Sistem informasi database multimedia yang dikhususkan untuk perekaman data warisan budaya kategori tangible cultural heritage dapat menjadi salah satu solusi media pelestarian budaya. Kata kunci: tangible cultural heritage, database 1. Pendahuluan Potensi budaya yang dimiliki Jawa Tengah sangat beragam. Potensi-potensi tersebut secara garis besar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu warisan budaya yang dapat diraba (tangible cultural heritage) dan warisan budaya yang tidak diraba (intangible cultural heritage). United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) mencatat bahwa Jawa Tengah memiliki lima warisan budaya dunia (world heritage) karena nilai universal yang sangat luar biasa (outstanding universal value). Warisan budaya dunia tersebut adalah Candi Borobudur, Kawasan Situs Sangiran (Sangiran the Early Man Site), wayang, batik, dan keris pusaka [1]. Instansi yang berwenang atas warisan budaya di Jawa Tengah adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah melalui dua bidang, yaitu Bidang Sejarah Purbakala dan Bidang Nilai Budaya, Seni, dan Film, serta dua Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu Museum Jawa Tengah Ranggawarsita dan Taman Budaya Jawa Tengah. Salah satu tugas kedua bidang dan UPT tersebut adalah mengelola dan mencatat segala macam data tentang warisan seni budaya. Sejauh ini, pengelolaan warisan budaya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah masih dilakukan secara konvensional. Metode yang ditempuh ini memiliki beberapa kekurangan, seperti kerumitan dalam pencatatan data, sampai kerusakan warisan budaya terkait. Hal ini bisa disebabakan oleh sumber data sumber yang masih tersebar dan belum terorganisasi. Beberapa dari sumber data tersebut, bahkan banyak yang belum teridentifikasi dengan jelas. Paparan di atas menunjukkan adanya kesulitan yang sangat luar biasa pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dalam melakukan pengelolaan data serta atribut yang sangat banyak. Misalnya berupa penjelasan atau deskripsi, bukti dokumen berupa foto- foto dan video dari sebuah jenis warisan budaya untuk kategori benda warisan budaya yang dapat diraba (tangible cultural heritage). Secara umum, pelestarian budaya dapat dikategorikan menjadi dua kelompok. Pertama, culture experience yaitu pelestarian budaya dengan terjun langsung di tempat kejadian. Kedua, culture knowledge yaitu pelestarian budaya dengan cara membuat sebuah pusat informasi mengenai kebudayaan yang dapat difungsionalisasi dalam berbagai bentuk [2]. Dari kedua bentuk pelestarian tersebut, pelestarian budaya berupa culture knowledge adalah bentuk pelestarian budaya yang lebih efektif untuk dilakukan. Dinyatakan demikian karena lingkup pelestarian yang dilakukan tidak terfokus pada satu pelestarian budaya, dan mencakup sebagian besar budaya yang harus dilestarikan. Pemanfaatan teknologi komunikasi berbasis piranti cerdas seperti komputer meningkat dengan signifikan dari masa ke masa. Dampak yang paling mudah teridentifikasi yaitu penyebaran informasi yang tidak lagi terbatas pada domain spasial, tapi juga menembus perbedaan waktu. Wujud yang nyata adalah dengan semakin tingginya ketergantungan manusia terhadap internet. Teknologi ini merupakan jaringan komputer di seluruh dunia yang terhubung satu sama lain. Internet telah membuat arus informasi menjadi lebih cepat, mudah, dan akurat. Menurut [3] jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat hingga mencapai 55 juta orang pada tahun 2011. Namun, pemanfaatan teknologi untuk