Kiamat sudah dekat! Ada Bahasa Aram di Indonesia Leonard Chrysostomos Epafras Universitas Gadjah Mada/Indonesian Consortium for Religious Studies “Bapaku dahulu orang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir bersama sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai pendatang ...” (Ulangan 26:5) Dari balik Sungai Sambatyon Dalam sejarah dunia ada bangsa yang kekuatan politiknya sebentar saja, terputus, expired tapi pengaruh budayanya besar dan luas. Contohnya, peradaban Keltik (Celtics), Yunani, Latin. Keltik sebagai bangsa dan negeri hanya muncul di abad enam SZB (Sebelum Zaman Bersama, atau Sebelum Masehi), setelah itu hilang tapi bahasa dan budaya kuat berpengaruh di Eropa, di Inggris, Perancis, dan khususnya Irlandia, Skotlandia, dan Wales. Peradaban Yunani kuno sudah lama berakhir sejak dikuasai berbagai bangsa dan terakhir Romawi pada sekitar abad pertama SZB, tapi lihatlah kamus-kamus kita yang masih menyimpan istilah-istilah yang berasal dari Yunani, contohnya nama-nama keilmuan seperti psikologi, geologi, dan lainnya. Begitu juga Latin yang telah berhenti berkuasa sejak keruntuhan Romawi Barat abad ketiga ZB (Zaman Bersama, atau Masehi), tapi bersama-sama dengan bahasa Yunani, mewarnai beragam ekspresi bahasa dunia sampai hari ini. Bahasa Aram adalah contoh lain. Nama bangsa Aram muncul dalam kronika Raja Asiria, Tiglat-Pileser I kira-kira abad sepuluh SZB, ketika ia berperang dengan bangsa “Ahlamu-Aram” di daerah antara Habur dan Sungai Efrat, sekarang di sekitar Timur Laut negara moderen Siria. Mereka adalah keturunan bangsa Amori yang sudah mendiami wilayah itu sejak seribu tahun sebelumnya. Satu dua abad kemudian, dalam prasasti Zakkur mencatat peperangan Asiria melawan orang Aram yang dipimpin Raja Bar Hadad. Bar Hadad dicatat juga dalam Alkitab Kristen, sebagai Raja Aram Benhadad (2 Raja-Raja 6:24) yang mengepung Samaria, ibukota Kerajaan Israel/Israel Utara. Setelah masa ini, kerajaan Aram semakin lemah dan kira-kira tahun 720 SZB, Aram sepenuhnya terintegrasi ke dalam kekuasaan Asiria. Asiria menundukkan tubuh dan kekuatan Aram, tapi Aram menundukkan kalbu dan pikiran Asiria. Sejak saat itu Asiria menjadi negeri dwibahasa, Asiria dan Aram, dan Aram menjadi bahasa administratif kerajaan. Kitab 2 Raja-Raja 18:26 (dan Yesaya 36:11) mencatat jejak Aram sebagai bahasa diplomasi antarbangsa. Pada abad empat atau lima SZB perlahan ia menjadi lingua franca di wilayah Asia Barat Daya, dan mungkin juga Mesir, mirip seperti bahasa Yunani Koiné di zaman Imperium Romawi, bahasa Arab sesudah kemunculan Islam, dan bahasa Melayu di Asia Tenggara. - ix - Sapri Sale DOI: 10.5281/zenodo.12179601