37 “KITA KAN BEDA!”: PERSAMAAN REMAJA PEREMPUAN MUSLIM DAN KRISTEN DI LANGSA, ACEH Jurnal Multikultural & Multireligius Vol. 13 No. 2 PENELITIAN “Kita Kan Beda!”: Persamaan Remaja Perempuan Muslim dan Kristen di Langsa, Aceh Muhammad Ansor STAIN Zawiyah Cot Kala, Langsa Email : ansor_riau@yahoo.co.id Diterima redaksi tanggal 15 Juni 2014, diseleksi 10 Juli 2014, dan direvisi 21 Agustus 2014 Abstract This article explores the similarities and differences in the responses of Christian and Moslem teenage girls in Langsa to the discourse of clothing and the regulation of the body in Islamic law. Using Bourdieu’s concept of ‘habitus’ and Scott’s concept of ‘hidden transcripts’, this paper aims to explain why Muslim and Christian teenagers in Langsa have had a similar response to the discourse of clothing and the regulation of the body despite religious differences and how their resistance a is revealed in everyday behavior. This article argues that the similarities of their responses are a result of the shared socio-cultural spaces and political circumstances. Meanwhile, the differences expressed in their daily life are due to the religious values that they hold, especially the Christians as they are a minority amongst Aceh’s Muslim majority who have imposed a dress code that reflects the collective identity of Acehnese women. Keywords: Teenage Women, Moslem and Christian, Islamic Sharia Abstrak Tulisan ini berusaha menjelaskan persamaan dan perbedaan remaja perempuan Kristen dan Muslim Langsa dalam merespon diskursus pakaian dan pengaturan tubuh atas nama syariat Islam. Menggunakan konsep ‘habitus’-nya Bourdeiu dan ‘hidden transcripts’-nya Scott, tulisan ini bertujuan menjelaskan mengapa di tengah perbedaan agama, remaja Muslim dan Kristen Langsa memiliki persamaan respon terhadap diskursus pakaian dan pengaturan tubuh atas nama syariat; bagaimana resistensi mereka terhadap struktur yang mengitari sebagaimana terungkap dalam perilaku keseharian. Tulisan berargumen bahwa persamaan merupakan resultan kenyataan mereka berbagi arena sosio-kultural dan lingkungan politik. Sementara perbedaan yang terekspresikan sehari-hari merupakan dampak keragaman sistem nilai agama masing-masing dan diskursus posisi minoritas Kristen di Aceh sehubungan keputusan kelompok mayoritas Muslim menempatkan cara berpakaian sebagai identitas kolektif perempuan Aceh. Kata Kunci : Remaja Perempuan, Muslim dan Kristen, Syariat Islam Pendahuluan Pemandangan sehari-hari yang seringkali menyita perhatian peneliti selama empat tahun berada di Langsa adalah ketika sewaktu-waktu menyaksikan razia pakaian di sekitar Lapangan Merdeka. Saya mengamati kepanikan remaja perempuan pengguna motor yang terjaring razia WH (Wilayatul Hisbah atau Polisi Syariat) dan DSI (Dinas Syariat Islam) karena pakaian mereka dianggap tidak memenuhi standar regulasi Syariat Islam Aceh. Beberapa