191
*Sri Wahyuni, Purnama Ningsih, dan Ratman
Pendidikan Kimia/FKIP - Universitas Tadulako, Palu - Indonesia 94118
Abstract
Keywords: Cotton seeds (Ceiba Pentandra L.); Activated Charcoal; Lead (Pb); spectrophotometer
spectro-direct
Pendahuluan
Kapuk merupakan serat yang dihasilkan
dari buahnya. Seratnya sangat ringan dan
mudah terbakar. Pohon kapuk umumnya
tumbuh di kawasan pinggir pantai serta lahan-
lahan dengan ketinggian 700 meter diatas
permukaan laut. Setiap pohon kapuk dewasa
dapat menghasilkan antara 4000 – 5000 buah
per tahun, sehingga dihasilkan biji kapuk
sekitar 50 kg per tahun (Widhianti, 2010)
Sulawesi tengah khususnya Desa Dalaka
Kecamatan Sindue Kabupaten Donggala
merupakan desa penghasil kapuk terbesar di
provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakat dalaka
yang hanya memanfaatkan kapuknya saja
dalam produksi pembuatan kasur dan hanya
memanfaatkan biji kapuk sebagai bahan
makanan ternak sehingga terlihat biji kapuk
tidak bernilai ekonomis. Secara umum, bentuk
kulit biji kapuk sama seperti halnya cangkang
kulit tumbuhan biji pada umumnya. Biji
kapuk memiliki kandungan selulosa (21,83%),
hemiselulosa (23,24%), lignin (10,37%) serta
mengandung protein, lemak, abu, fosfor dan
kalsium. Terdapatnya bahan–bahan tersebut
menjadikan biji kapuk berpotensi untuk
digunakan sebagai bahan pembuatan arang
(Mujnisa, 2007). Selain itu, bila biji kapuk
dikelola secara bijak dengan pemahaman dan
kesempatan, biji kapuk dapat digunakan untuk
kepentingan yang lebih luas daripada itu.
Pencemaran logam pada dasarnya tidak
berdiri sendiri, namun dapat terbawa oleh air,
tanah dan udara. Apabila semua komponen
tersebut telah tercemar oleh senyawa
anorganik, maka didalamnya kemungkinan
dapat mengandung berbagai logam berat
seperti Cr, Zn, Pb, Cd, Fe dan sebagainya.
Timbal (Pb) mempunyai dampak negatif
bagi kesehatan terutama jika kadarnya sudah
melebihi batas kadar yang dibutuhkan oleh
tubuh. Walaupun pada konsentrasi rendah,
efek ion logam berat dapat berpengaruh
langsung hingga terakumulasi pada rantai
makanan. Seperti halnya sumber-sumber polusi
lingkungan lainnya, logam berat tersebut dapat
ditransfer dalam jangkauan yang sangat jauh di
lingkungan (Darmayanti dkk., 2012).
Beberapa metode yang dapat digunakan
untuk menurunkan konsentrasi ion logam
berat dalam limbah cair diantaranya adalah
adsorpsi, pengendapan, penukar ion dengan
menggunakan resin, filtrasi, dan dengan cara
penyerapan bahan pencemar oleh adsorben
Lead is a heavy metal that has been a problem particulary in the aquatic environment. is reseach
is an effort to reduce these problems by using adsorption method that utilizes an adsorbent of cotton seeds
to Pb. Cotton seeds were chemically activated trough the process using a solution of 85% H3PO4. is
study aims to determine the optimum weight of activated charcoal an adsoption capacity in optimum
condition by using two parameter variations of weight of 0,3; 0,6; 0,9; 1,2 and 1,5 grams and Pb
concentration of 10, 20, 30, 40 and 50 ppm by using a contact time of 30 minutes. Pb concentration
was measured using a spectrophotometer spectro-direct. e result obtained that optimum weight of
active charcoal cotton seeds was 1,2 grams with a percentage of 97,76% uptake an adsorption capacity
in optimum condition Pb was 0,05 mg/mg activated charcoal.
J. Akad. Kim. 5(4): 191-196, November 2016
ISSN 2302-6030 (p), 2477-5185 (e)
PEMANFAATAN ARANG AKTIF BIJI KAPUK (Ceiba pentandra L.)
SEBAGAI ADSORBEN LOGAM TIMBAL (Pb)
The Use of Activated Charcoal of Cotton Seeds (Ceiba pentandra L.) as an
Adsobent for Lead (Pb)
Recieved 13 September 2016, Revised 13 Oktober 2016, Accepted 16 November 2016
*Korespondensi:
Sri Wahyuni
Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako
email: sriwahyuni_1681@yahoo.com
© 2016 - Universitas Tadulako
brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk
provided by Jurnal Akademika Kimia