Serat Rupa Journal of Design, September 2016, Vol.1, No.2: 247-278 Ferlina Sugata – Keterkaitan Aktivitas Pradaksina Pada Ragam Tipologi Bangunan Stupa 247 KETERKAITAN AKTIVITAS PRADAKSINA PADA RAGAM TIPOLOGI BANGUNAN STUPA Ferlina Sugata (Email: ferlina_sugata@yahoo.com) Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha Jl. Prof. Drg. Surya Sumantri No 65, Bandung, Indonesia ABSTRAK Pradaksina, sebagai salah satu aktivitas puja bakti dalam agama Buddha, adalah sikap untuk mempersiapkan batin dengan cara berjalan berkeliling searah jarum jam dari Timur ke Barat sebanyak tiga kali. Dalam pelaksanaannya, ada dua macam aktivitas pradaksina berdasarkan aliran dalam agama Buddha, yaitu menurut tradisi Theravada yang mengutamakan makna penghormatan dan tradisi Mahayana yang mengutamakan makna meditasi.Bangunan stupa sebagai salah satu sarana puja bakti dalam agama Buddha merupakan wadah untuk menampung aktivitas puja bakti, dalam konteks ini adalah pradaksina. Selain sebagai wadah untuk menampung aktivitas, stupa juga berfungsi sebagi objek penghormatan itu sendiri dalam pelaksanaan puja bakti. Pada dasarnya, stupa adalah monumen yang didirikan untuk menyimpan relik atau abu dari seorang suci setelah beliau meninggal dan dikremasi. Pada perkembangan selanjutnya, stupa sebagai arsitektur religius agama Buddha awal, menjadi pengganti image Buddha Parinibbana yang kemudian merebak ke seluruh dunia dengan bentuk arsitektur awal sebagai komposisi dari jubah, mangkuk, dan tongkat Sang Buddha.Keterkaitan antara kedua hal tersebut di atas, antara pradaksina sebagai aktivitas yang ditampung pada fungsi bangunan stupa, ternyata saling mempengaruhi terhadap perwujudan aktivitas pada wadahnya diantaranya dalam hal menentukan dimensi ruang yang terbentuk, mempertegas kualitas ruang yang terbentuk, menjadikan bentuk dan massa arsitektural sebagai orientasi dari ruang yang terbentuk, serta menjadikan stupa sebagai wadah arsitektur, bukan massa skulptural. Namun adanya keterkaitan tersebut hanya berupa dampak secara spasial dan bukanlah merupakan perubahan secara hakiki akan makna spiritual yang terkandung pada pradaksina dan bangunan stupa sebagai ekspresi religius. Jadi tidak ada pergeseran makna yang terjadi pada keduanya. Kata Kunci : keterkaitan; pradaksina; tipologi bangunan stupa ABSTRACT Circumambulation as one of the Buddhist worship activity is a pathway around the shrines clockwise, from East to the West. There are two kinds of pradaksina activity refer to schools in Buddhism, the Theravada as an honor symbol and the Mahayana as one type of meditation. Stupa as one of Buddhist worship architecture is a place to accommodate the activity itself and the worship symbol as well. Stupa is a conical monument erected over relics of the Buddhas, Arhats, Kings or other great men. Stupa as a religious architecture nowadays became the image of The Buddha as known all around the world which is also known as the symbol of the composition of robe, bowl, and walking stick from a monk. The interrelatedness between the pradaksina as an activity and the stupa as the architecture cause some effects that related to space dimension, space quality, orientation of space, and function of the building. All the effects only influence the spatial matter but not influence the meaning of pradaksina and the stupa. Keyword: pradaksina; stupa’s typology; the interrelatedness