Prosiding Ilmu Ekonomi ISSN 2460-6553 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI AGLOMERASI INDUSTRI MANUFAKTUR DI INDONESIA TAHUN 2014-2018 (Studi Kasus Industri Pengolahan Non Migas) Priyanka Amilatul Salma, Ria Haryatiningsih, Westi Riani Prodi Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Bandung Bandung, Indonesia priyankaasalma@gmail.com AbstractThe industrial is the main pillar of long-term economic development. The performance of the manufacturing industri sector has proven to be a potential sector in the formation of GDP, particularly the non-oil and gas processing industri which is the largest contributor. Industrialization can be developed through a manufacturing industri spatial policy in the form of industrial agglomeration. This study aims to determine the factors that influence the agglomeration of the non-oil and gas manufacturing industri in Indonesia and how much influence it has. The agglomeration index which is the dependent variable in this study is measured by the share of the industrial sub-sector to industrial GDP. The independent variables in this study are the real industrial output value, the real output value per worker, real capital per worker and real wages of industrial labor. This type of research is quantitative descriptive, using panel data from fifteen sub-sectors of the non-oil and gas processing industri in 2014 - 2018. The method used is regression analysis with the OLS (Ordinary Least Square) method. The panel data model estimation used is the fixed effect model. The results showed that spatially the value of real industrial output and real capital per worker had a positive and significant effect on industrial agglomeration. The real output value per worker and industrial labor wages have a negative and significant effect on agglomeration. These independent variables can also jointly influence the agglomeration of the non-oil and gas processing industri in Indonesia. KeywordsAgglomeration, Economic Growth, Manufacturing Industri, Economies of Scale AbstrakIndustri menjadi penopang utama dalam pembangunan ekonomi jangka panjang. Kinerja sektor industri manufaktur terbukti menjadi sektor potensial dalam pembentukan PDB, khususnya pada industri pengolahan non migas yang menjadi penyumbang terbesar. Industrialisasi dapat dibangun melalui kebijakan spasial industri manufaktur berupa aglomerasi industri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi aglomerasi industri manfaktur non migas di Indonesia dan seberapa besar pengaruhnya. Indeks aglomerasi yang merupakan variabel dependen. Variabel independen dalan penelitian ini adalah nilai output riil industri, nilai output riil per pekerja, modal riil per pekerja serta upah riil tenaga kerja industri. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif, menggunakan data panel 15 subsesktor industri pengolahan non migas pada tahun 2014 - 2018. Dengan metode analisis regresi dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Estimasi model data panel yang digunakan adalah fixed effect model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara spasial nilai output riil industri dan modal riil per pekerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap aglomerasi industri. Nilai output riil per pekerja dan upah tenaga kerja industri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap aglomerasi. Variabel independen tersebut juga secara bersama-sama dapat memengaruhi aglomerasi industri pengolahan non migas di Indonesia. Kata KunciAglomerasi, Pertumbuhan Ekonomi, Industri Manufaktur, Skala Ekonomi PENDAHULUAN Industrialisasi menjadi sektor penggerak dalam pembangunan yang dapat dilihat dari bentuk perubahan struktur ekonomi yang terwujud dalam kontribusi sektor industri manufaktur yang tinggi dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam catatan BPS industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dalam PDB, kontribusinya dapat mencapai 20,52 persen pada tahun 2016 dan menjadi angka tertinggi selama periode 2014 -2018 (BPS, 2017). Besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari sumbangan pengolahan non migas yang memiliki nilai 18,21 % dan sisanya berasal dari industri migas. Dari hal tersebut membuktikan sektor industri tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor lainnya. Menurut Kuncoro kebijakan spasial industri manufaktur dapat membangun sektor industri. Kebijakan tersebut dapat mendorong pembangunan, melalui kegiatan ekonomi yang berlangsung. Dalam ekonomi geografi, kegiatan ekonomi yang terkonsentrasi secara spasial termasuk dalam konsep aglomerasi. Menurut Montgomery (2002) aglomerasi merupakan konsentrasi kegiatan ekonomi akibat dari penghematan lokasi yang berdekatan yang berada dalam cluster spasial perusahaan, tenaga kerja dan konsumen. Cluster merupakan kumpulan industri sejenis yang terkonsentrasi di suatu wilyah, dimana dengan terkonsentrsi perusahaan akan mendapat penghematan eksternal (Haryatininghsih, 2013). Menurut Perroux munculnya aglomerasi industri memiliki sebuah keuntungan seperti skala ekonomis serta keuntungan penghematan biaya (Arsyad, 1999). Keuntungan konsetrasi spasial dari skala ekonomi disebut dengan ekonomi aglomerasi (Bradley & Gans, 1996). Industri beraglomerasi di daerah yang memiliki potensi dimana daerah tersebut mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga industri mendapat manfaat dari lokasi perusahaan yang berdekatan. Terjadinya aglomerasi dapat dilihat dari banyaknya jumlah industri yang terkonsentrasi secara spasial. Dari catatan 42