WARTAZOA Vol. 30 No. 1 Th. 2020 Hlm. 25-36 DOI: http://dx.doi.org/10.14334/wartazoa.v30i1.2243 25 Pemanfaatan Termografi Inframerah dalam Monitoring Status Fisiologi Reproduksi Ruminansia akibat Stres Panas (The Application of Infrared Thermography in Monitoring Reproduction Physiology Status of Ruminant Due to Heat Stress) Fitra Aji Pamungkas 1,5 , BP Purwanto 2 , W Manalu 3 , A Yani 4 dan RG Sianturi 5 1 Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor 2 Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor, Bogor 3 Departemen Anatomi Fisiologi dan Farmakologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor 4 Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor 5 Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor Kontributor utama: Fitra Aji Pamungkas; alamat email: fitrap@yahoo.com (Diterima 10 Januari 2020 Direvisi 28 Februari 2020 Disetujui 3 Maret 2020) ABSTRACT Assessment on reproduction physiological parameters of ruminant caused by thermal stress usually uses invasive methods. However, these methods are less accurate because they are subjective, require a significant time and resources, and there are problems in animal welfare. Infrared thermography is one alternative solution that can be used. Infrared thermography is a modern, non-invasive, non-destructive, and safe technique to visualize thermal profile and surface temperature. This paper describes the application of infrared thermography in monitoring reproduction physiology status of ruminant. This method does not require physical contact and allows direct visualisation of temperature distribution so that it can be used as a reference in understanding and evaluating several parameters in livestock during normal condition or heat stress. Key words: Thermography, infrared, physiology, reproduction, heat stress, ruminant ABSTRAK Penilaian parameter fisiologi reproduksi ruminansia sebagai akibat dari stres panas biasanya menggunakan metode invasif. Namun, metode ini kurang akurat karena bersifat subjektif, membutuhkan waktu dan tenaga, dan ada kekhawatiran tidak memperhatikan kesejahteraan ternak. Termografi inframerah menjadi salah satu solusi alternatif yang bisa digunakan. Termografi inframerah merupakan metode yang non-invasif, non-destruktif, dan aman digunakan untuk memperoleh gambaran profil termal dari suhu permukaan secara visual. Tulisan ini mengulas aplikasi pemanfaatan termografi inframerah dalam monitoring status fisiologis reproduksi ruminansia. Metode ini tidak memerlukan adanya kontak fisik dengan ternak dan memungkinkan visualisasi distribusi temperatur secara langsung sehingga dapat dijadikan acuan dalam pemahaman dan penilaian beberapa parameter pada ternak pada keadaan normal atau stres panas. Kata kunci: Termografi, infrared, fisiologi, reproduksi, stres panas, ruminansia PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang terletak pada garis khatulistiwa dengan iklim tropis yang mempunyai dua musim yaitu musim hujan dan kemarau. Permasalahan yang sering terjadi di daerah tropis adalah kondisi yang seringkali kurang atau tidak nyaman bagi ternak. Suhu lingkungan di sekitar kandang yang tinggi terutama pada musim kemarau dapat menjadi pemicu terjadinya stres panas pada ternak. Stres digambarkan sebagai efek kumulatif dari berbagai faktor yang berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas ternak, atau juga digambarkan sebagai besarnya pengaruh luar terhadap tubuh yang cenderung menurunkan sistem kerja tubuh (Silanikove 2000a). Ternak mengalami berbagai jenis stres baik fisik, nutrisi, kimia, psikologis dan stres panas. Di antara berbagai jenis stres, stres panas merupakan stres yang paling sering terjadi saat ini dikarenakan faktor iklim yang terus berubah (Silanikove & Koluman 2015) dan menjadi salah satu pemicu stres terutama di daerah tropis dan subtropis (Nardone et al. 2010). Stres panas merupakan ketidaknyamanan yang dirasakan dan perubahan kondisi fisiologis yang terkait dengan paparan lingkungan yang panas dan ekstrim (Gupta et al. 2013). Stres panas mempengaruhi fungsi ovarium dan perkembangan embrionik sehingga terjadi penurunan fertilitas (Gupta et al. 2013). Stres panas mengganggu