Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 7 No. 3 Tahun 2023 e. ISSN: 2550-0821 Dosen Indonesia Semesta (DIS)-DPD Jatim 49 Pemberdayaan Masyarakat dalam Mencegah dan Mengatasi Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan 3M Plus Budi Yulianto, Budi Joko Santosa, Handoyo, Nurlailis Saadah Poltekkes Kemenkes Surabaya, Jl. Pucang Jajar Tengah No. 56, Surabaya, 60282 E-mail: budyul.by@gmail.com Abstrak Penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Magetan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan jumlah yang signifikan. Mulai dari tahun 2021 sampai tahun 2023 terdapat 5 kecamatan yang dinyatakan sebagai daerah endemik DBD, termasuk Kecamatan Ngariboyo. Desa Baleasri Kecamatan Ngariboyo memiliki banyak tempat yang menjadi perindukan sarang nyamuk. Masih banyak rumah penduduk yang kurang pencahayaan dan lembab sehingga cocok untuk tempat hidup nyamuk. Tujuan kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) ini adalah untuk memfasilitasi masyarakat dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan DBD secara mandiri sehingga derajat kesehatannya meningkat. Metode yang digunakan merupakan perpaduan model Community Development dan edukasi dengan cara memberdayakan ibu rumah tangga, karang taruna, kader pemantau jentik (Jumantik), kader kelompok kerja sanitasi (pokjasan) sebagai subyek dan obyek. Pelaksanaan kegiatan berupa pelatihan dan pendampingan dibawah bimbingan fasilitator, petugas kesehatan dan dukungan dari Kepala Desa. Materi telah meliputi tentang pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus untuk pencegahan dan pemberantasan DBD. Hasil yang dicapai yaitu meningkatnya pemahaman dan ketrampilan masyarakat dalam mencegah dan memberantas DBD dengan PSN 3M Plus yang dilakanakan oleh masyarakat secara mandiri. Kata Kunci DBD, Jumantik, pemberdayaan masyarakat, pokjasan, 3M Abstract The number of people suffering from Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Magetan Regency from year to year shows a significant increase. Starting from 2021 to 2023, there are 5 sub-districts that have been declared endemic areas for dengue fever, including Ngariboyo Sub-district. Baleasri Village, Ngariboyo District, has many places where mosquitoes’ nest. There are still many people's houses that lack lighting and are damp, making them suitable places for mosquitoes to live. The aim of this Community Partnership Program (PKM) activity is to facilitate the community in preventing and controlling dengue fever independently so that their health level increases. The method used is a combination of Community Development and education models by empowering housewives, youth organizations, larva monitoring cadres (Jumantik), sanitation working group cadres (pokjasan) as subjects and objects. Implementation of activities takes the form of training and mentoring under the guidance of facilitators, health officers and support from the Village Head. The material includes the importance of eradicating mosquito nests (PSN) with 3M Plus for the prevention and eradication of dengue fever. The results achieved were increased community understanding and skills in preventing and eradicating dengue fever with PSN 3M Plus which was carried out by the community independently. Keywords DBD, Jumantik, community empowerment, pokjasan, 3M 1. PENDAHULUAN Penderita penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Magetan, pada musim hujan akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022 tercatat meningkat sehingga perlu diwaspadai. Pada bulan Oktober 2021 terdapat 15 orang penderita DBD, November 2021 ada 25 penderita dan Desember 2021 ada 31 penderita. Selama musim penghujan serangan nyamuk aedes aegypti sulit terkendali. Hal ini dapat dilihat pada bulan Februari bahwa 5 kecamatan di Magetan merupakan daerah endemik DBD, antara lain Kecamatan Magetan, Bendo, Panekan, Sukomoro dan Ngariboyo. Diperkirakan jumlah penderita tersebut masih akan bertambah seiring masih berlangsungnya musim hujan. Saat musim hujan rawan adanya genangan yang menjadi tempat nyamuk aedes aegypti berkembang biak [1]. Terjadinya kasus DBD merupakan akibat interaksi antara manusia, virus, dan lingkungan, yaitu vektor dan kondisi habitat perkembangbiakannya. Sampai saat ini belum ada obat atau vaksin yang efektif untuk menghentikan penyebaran kasus dengue, sehingga strategi utama yang dilakukan adalah pengendalian vektor yang berfokus pada habitat perkembangbiakan nyamuk [2]. Pengendalian vektor dilakukan dengan mengukur kepadatan larva vektor dalam bentuk Angka Bebas Jentik (ABJ), House Index (HI), Container Index (CI) dan Breteau Index (BI). Angka-angka tersebut menjadi indikasi terjadinya risiko penularan DBD [3].