Prosiding Seminar Nasional Teknik Lingkungan Kebumian SATU BUMI Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta 298 Evaluasi Kesesuaian Lahan untuk Hunian Tetap di Desa Sumbermujur, Kabupaten Lumajang Galih Haryo Wisanggeni 1) , Eko Teguh Paripurno 2) , Muammar Gomareuzaman 3), Nandra Eko Nugroho 4) , and Johan Danu Prasetya 4) 1,2,3,4) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta/Jurusan Teknik Lingkungan a) Corresponding author: paripurno@upnyk.ac.id b) 114190009@student.upnyk.ac. ABSTRAK Gunung Semeru mengalami erupsi pada 4 Desember 2021 yang mengakibatkan kerugian pada masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Semeru sehingga harus dievakuasi di beberapa titik pengungsian. Hal ini membuat pemerintah bersama beberapa pihak membangun hunian tetap untuk warga terdampak bencana Gunung Semeru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kesesuaian lahan untuk Pembangunan hunian tetap yang merupakan hunian yang ditujukan untuk relokasi masyarakat pascabencana erupsi gunung semeru. Penentuan kesesuaian lahan dengan menggunakan 10 parameter yaitu kemiringan lereng, posisi jalur patahan, kekuatan batuan, kembang kerut tanah, daya dukung tanah, kondisi saluran permukaan tanah, kedalaman air tanah, bahaya erosi, bahaya longsor dan bahaya banjir. Analisis dan pengambilan data pada penelitian ini menggunakan beberapa metode antara lain metode survei dan pemetaan, geolistrik, dan uji laboratorium. Penentuan kesesuaian lahan menunjukkan hasil 2 kelas kesesuaian lahan yaitu sangat sesuai (S1) dengan luas 664231 m 2 atau seluas 56.04% dan sesuai (S2) dengan luas 521017 m 2 atau seluas 43,96%. Parameter yang menjadi faktor penghambat utama dari hasil evaluasi pada penelitian ini adalah bahaya erosi. Kata Kunci: Erupsi; Gunung Semeru; Relokasi; Hunian Tetap; Kesesuaian Lahan ABSTRACT Mount Semeru erupted on December 4 2021 which resulted in losses to the people living at the foot of Mount Semeru so they had to be evacuated at several evacuation points. This has led the government and several parties to build permanent housing for residents affected by the Mount Semeru disaster. The aim of this research is to evaluate the suitability of land for the construction of permanent housing which are residences intended for the relocation of communities after the Mount Semeru eruption disaster. Determining land suitability using 10 parameters, namely slope, fault line position, rock strength, soil swelling, soil bearing capacity, surface channel conditions, groundwater depth, erosion hazard, landslide hazard and flood hazard. Analysis and data collection in this research used several methods, including survey and mapping methods, geoelectricity, and laboratory tests. Determination of land suitability shows the results of 2 land suitability classes, namely very suitable (S1) with an area of 664231 m 2 or an area of 56.04% and suitable (S2) with an area of 521017 m 2 or an area of 43.96%. The parameter that is the main inhibiting factor in the evaluation results in this study is the danger of erosion. Keywords: Eruption; Mount Semeru; Relocation; Permanent Housing; Land Suitability PENDAHULUAN Indonesia terletak pada kawasan lingkaran api pasifik yang menyebabkan Indonesia memiliki potensi bencana gunung api (Purba, dkk, 2022). Salah satu gunung api aktif yang berada di Indonesia adalah Gunung Semeru. Gunung Semeru merupakan gunung api yang secara administrasi terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Lumajang dan Malang. Gunung Semeru sampai saat ini merupakan gunung api aktif dan sempat meletus pada 4 Desember 2021. Aktivitas Gunung Semeru pada 4 Desember 2021 menyebabkan terjadinya aliran piroklastik yang menuruni lereng sehingga terjadi bencana guguran awan panas (Islami, dkk, 2021). Bencana guguran awan panas mengakibatkan banyak korban jiwa dari masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Semeru. Selain itu, bencana ini juga menyebabkan kerugian berupa rusaknya tempat tinggal akibat endapan dan guguran piroklastik dari Gunung Semeru. Dampak kerugian ini menyebabkan masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Semeru terpaksa dievakuasi dan mengungsi di beberapa titik pengungsian. Pemerintah selanjutnya membangun hunian tetap dan melakukan relokasi untuk korban bencana Gunung Semeru.