Dandy Ardiansyah, SNTEM, Volume 3, Oktober 2023, hal. 353-363 353 ANALISA PERFORMA LOW TEMPERATURE SHITF CONVERTER DAN PERSEN KONVERSI BERDASARKAN PENGARUH KONDISI OPERASI PADA PERUSAHAAN X Dandy Ardiansyah 1* , Farid Alfalaki Hamid 1 1 Teknik Pengolahan Migas, Politeknik Energi dan Mineral Akamigas, Jl. Gajah Mada No.38, Cepu, 58315 *E-mail: dandy.ardiansyah1234@gmail.com ABSTRAK Ammonia adalah hasil reaksi hidrogen dan nitrogen dengan rasio 3 : 1. Gas hidrogen dihasilkan dari proses steam reforming. Proses steam reforming gas alam menjadi gas hidrogen menghasilkan gas carbon monooxide, dimana gas CO merupakan racun bagi katalis. Untuk mencegah hal tersebut perlu dilakukan proses pemurnian gas CO, salah satunya dengan menggunakan proses shift converter,yang mengkonversi CO menjadi CO2. Salah satu alat yang digunakan Low Temperature Shift Converter 104- D. Kandungan CO sangat dibatasi, maka itu performa Low Temperature Shift Converter harus selalu berada dalam keadaan prima, dengan cara menjaga kondisi operasinya. Untuk meninjau kinerjanya, maka dilakukan perkiraan efisiensi massa dan termalnya,persen konversi serta aktivitas katalis yang terdapat didalamnya. setelah dilakukan evaluasi maka diperoleh estimasi panas masuk pada kondisi desain sebesar 62.086.694,5 kj/hr dan panas keluar sebesar 69.401.553,1 kj/hr dengan panas reaksinya 8.404.860,9 kj/hr.Sedangkan pada estimasi panas masuk pada kondisi aktua sebesar 35.803.806,43 kj/hr dan panas keluar sebesar 39.962.429,09 kj/hr dengan panas reaksinya 4.832.413,47 kj/hr.adapun perolehan persenkonversi CO pada kondisi desain yaitu sebesar 95% dan pada kondisi aktualnya yaitu sebesar 92,08% dengan plant rate 60,07%Kondisi aktivitas katalis pada bagian atas,tengah serta bagian bawah secara berurut yaitu 8,66%,65,33%,dan 17,77%.Hail tersebut menunjukan bahwa aktivitas katalis dalam kondisi yang baik. Kata kunci: Low temperature shift converter,Katalis, Konversi, Performa 1. PENDAHULUAN Industri pupuk memiliki peran yang sangat penting di negara Indonesia yang merupakan salah satu negara agraris yang hampir seluruh penduduknya bekerja sebagai seorang petani. Untuk menghasilkan dan menghasilkan hasil pertanian yang berkualiats maka dibutuhkan juga pupuk yang berkualitas. Maka industri pupuk sangat diharapkan untuk lebih bisa melakukan pengoptimalan proses sehingga dapat dihasilkan pupuk yang berkualitas.[1] Saat ini, teknologi di perindustrian berkembang dengan pesat. Maka itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi kemajuan teknologi saat ini agar mampu mengikuti persaingan global. Di masa ini, diharapkan sektor industri mampu menjadi penggerak bagi perekonomian Indonesia, termasuk diantara industri pupuk yang menghasilkan produk jadi maupun produk samping yang dapat diolah lebih lanjut. Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan suatu wadah untuk mengimplemntasikan ilmu teori yang mana saat ini telah banyak berkembang dalam masa perkembangan IPTEK, saat ini dapat meningkatkan persaingan dalam dunia kerja terhadap sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.[2] Ammonia adalah senyawa penting yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pupuk dan produk dalam industri lainnya. Ammonia merupakan gas basa yang tidak memiliki warna, lebih ringan dari udara dan memiliki aroma dan bau yang tajam. Bahan dasar pada pembentukan ammonia yaitu udara, gas alam, dan steam (uap air).[3]