Qemal Irsyad, SNTEM, Volume 3, Oktober 2023, hal.267-278 267 PEMETAAN PERMASALAHAN PADA SUMUR TUA DI LAPANGAN KWG Qemal Irsyad 1 , Innosensius Leo I.A 1 , Giyanti 1 , Marcellius Raka H.A 1 , Dhany Firmansyah 2 , Pradini Rahalintar 1* 1 Teknik Produksi Minyak dan Gas, Politeknik Energi dan Mineral Agas, Cepu 58315, Indonesia 2 PT Pertamina EP Asset 4, Distrik 1 Kawengan, Cepu 58315, Indonesia *E-mail: pradini.rahalintar@esdm.go.id ABSTRAK Lapangan minyak tua Kawengan ditemukan pertama kali pada tahun 1923. Pada lapangan minyak, terutama yang sudah merupakan mature field seperti KWG ini, terjadi banyak masalah - masalah yang biasanya terjadi yang dapat menyebabkan produksi fluida kurang optimal. Sumur di lapangan KWG sendiri memiliki masalah berupa endapan parafin, water cut tinggi, tubing bocor, rod putus, kepasiran dan lain sebagainya. Maka dari itu, diperlukan pemetaan permasalahan pada sumur untuk mengetahui skala prioritas masalah yang harus segera ditanggulangi. Metode analisa yang dilakukan adalah analisa Urgency, Seriousness, and Growth (USG) yang digunakan dalam penentuan skala prioritas pada setiap masalah. Dalam melakukan analisa USG ini, digunakan skala poin 1 sampai 5 untuk melakukan skoring terkait masalah yang terjadi di sumur. Potensi sumur juga menjadi salah satu penilaian dalam penentuan nilai USG-nya oleh karena itu jika terdapat dua sumur dengan kerusakan yang sama maka sumur yang akan dipilih untuk diperbaiki adalah sumur yang memiliki nilai produktivitas yang lebih tinggi. Dari metode analisa ini, diperoleh bahwa dari beberapa masalah yang diidentifikasi, terpilih tiga masalah yang dinilai paling penting dan harus ditangani sesegera mungkin. Masalah-masalah tersebut berupa rod putus, tubing bocor, dan paraffin wax. Dilakukan juga analisa lanjutan mengenai metode-metode penanggulangan tepat untuk menangani masalah tersebut dan dilakukan perbandingan terhadap implementasi yang sudah diterapkan pada permasalahan di sumur-sumur Lapangan Kawengan. Kata kunci: paraffin, water cut, kepasiran, tubing bocor, rod putus 1. PENDAHULUAN Lapangan minyak tua Kawengan ditemukan pertama kali pada tahun 1923. Pada Lapangan KWG sendiri ini, mempunyai permukaan tanah yang terdiri dari batuan kapur mergel, sehingga sistem pengeringan di permukaan cukup cepat berlangsungnya, namun erosinya berjalan lambat, karena hampir seluruh lapangan minyak KWG ditutupi oleh hutan jati [1]. Operasi produksi di KWG terbagi menjadi dua area, yaitu area barat dan timur. Area barat memiliki 24 sumur dengan status 16 berproduksi dan sebanyak 8 lainnya dalam keadaan off. Area timur memiliki 18 sumur dengan status 11 berproduksi dan 7 sisanya dalam keadaan off. Hingga saat ini, Lapangan KWG memiliki total 42 sumur dengan 27 sumur yang aktif berproduksi. Produksi yang dihasilkan oleh lapangan ini adalah sebesar 11587 BLPD / 568 BOPD [2]. Sumur-sumur di KWG dialirkan ke 6 titik Stasiun Pengumpul dan 1 Sub Station. Pada lapangan minyak, ada banyak masalah - masalah yang biasanya terjadi yang dapat menyebabkan produksi fluida kurang optimal sehingga fluida tersebut dinilai kurang ekonomis. Permasalahan - permasalahan itu diantaranya yaitu, minyak beku (wax), scale, korosi, rendahnya kualitas minyak, water cut tinggi, tubing bocor, rod putus dan kepasiran. Permasalahan - permasalahan tersebut harus segera ditangani agar produksi fluida yang diproduksikan bisa optimal dan memperoleh nilai ekonomis. Oleh sebab itu diperlukan