Vol 8, No 3, Mei 2020 http://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/jurnal-akuntansi/ AKUNESA: Jurnal Akuntansi Unesa Copyright @ 2020 AKUNESA: Jurnal Akuntansi Unesa PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA SEKTOR PERUSAHAAN JASA INFRASTRUKTUR, UTILITAS DAN TRANSPORTASI DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2015-2017 Novita Dwi Damayanti Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya novitadwidamayanti12@gmail.com Rohmawati Kusumaningtias Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya rohmawatikusumaningtias@unesa.ac.id ABSTRACT This study aims to provide empirical evidence related to the effect of corporate governance mechanisms on financial distress in 2015-2017. The research sample consisted of 129 infrastructure, utilities and transportation companies. The data analysis technique used in this study is multiple regression analysis. Hypothesis test results indicate that the independent director and audit committee have a positive effect on financial distress. Meanwhile, institutional ownership, managerial ownership and independent commissioners have no effect on financial distress. Keywords: Corporate Governance, Financial Distress, Infrastructure, Utilities and Transportation. PENDAHULUAN Sebanyak 40 perusahaan pada tahun 2009-2018 telah delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Perusahaan-perusahaan tersebut terdiri dari 22 perusahaan dari sektor jasa, 15 perusahaan sektor manufaktur dan 3 perusahaan dari sektor pertambangan. Perusahaan-perusahaan yang delisting dari BEI tersebut rata-rata memiliki kecenderungan terkena financial distress. Hal tersebut dapat diketahui melalui kemampuan likuiditas yang rendah, kemampuan menghasilkan laba yang rendah, ketidaktentuan keberlangsungan usaha serta saham perusahaan yang tidak lagi aktif di perdagangkan. Kondisi tersebut dapat memicu adanya kebangkrutan pada perusahaan. Kebangkrutan perusahaan akan mengakibatkan berbagai macam kerugian yang besar, tidak hanya bagi pemegang saham saja tetapi juga untuk karyawan dan kondisi perekonomian secara nasional. Sehingga, perusahaan harus menghindari berbagai macam kondisi yang dapat mengakibatkan terjadinya kebangkrutan salah satunya melalui pengetahuan tentang financial distress (Al-Khatib & Al-Horani, 2012). Kondisi Financial distress dalam perusahaan dapat diukur dari tata kelola perusahaannya. Hal tersebut disebabkan karena tata kelola perusahaan atau biasa disebut dengan corporate governance bagi perusahaan memuat pengaturan mengenai dewan komisaris, direksi serta manajemen dalam suatu perusahaan supaya dapat terjadi keselarasan dalam pengelolaannya (Hanafi & Breliastiti, 2016). Sehingga, tata kelola perusahaan akan mampu mengurangi adanya permasalahan agensi yang berdampak pada berkurangnya tingkat asimetri informasi. Berkurangnya tingkat asimetri informasi dapat menyebabkan risiko financial distress dalam perusahaan berkurang (Ariesta & Chariri, 2013). Berkaca dari permasalahan tersebut sehingga penulis ingin mengetahui pengaruh corporate governance (CG) pada financial distress dari perusahaan sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi selama tahun 2015-2017. KAJIAN PUSTAKA Teori Keagenan (Agency Theory) Teori keagenan dianggap sebagai kontrak dari hubungan agensi principal dengan agent yang mana agent harus bertindak atas nama principal dalam melakukan pengambilan keputusan. Masalah agensi muncul ketika adanya perkiraan bahwa agent tidak mungkin terus bertindak sesuai dengan kepentingan dari principal sehingga dapat memicu kondisi kesulitan keuangan (Jensen & Meckling, 1976). Teori Sinyal (Signalling Theory) Signalling theory memberikan gambaran bahwa manajer melakukan pemberian sinyal berupa informasi pada laporan keuangan perusahaan. Informasi tersebut berfungsi sebagai usaha dalam