JURNAL AKUNTANSI INDONESIA 51 ANALISIS KARAKTERISTIK MUZAKKI DAN TATA KELOLA LAZ TERHADAP MOTIVASI MEMBAYAR ZAKAT PENGHASILAN Kiryanto & Villia Nikmatul Khasanah Korespondensi dengan penulis: Kiryanto & Villia Nikmatul Khasanah Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang Jurnal Akuntansi Indonesia, Vol. 2 No. 1 Januari 2013, Hal. 51- 64 ANALISIS KARAKTERISTIK MUZAKKI DAN TATA KELOLA LAZ TERHADAP MOTIVASI MEMBAYAR ZAKAT PENGHASILAN Abstract Zakat is not something new in the eyes of Muslims. Muslims really believe and believe that zakat is one of the pillars of Islam. Problems often arise in the community we are to whom Zakat should be given. More major distributed directly by muzakki to mustahiq, or otherwise through amil zakat. For that goal to be achieved in this research is to analyze the influence of Gender ¸ The Faith, Knowledge of Islam, Governance LAZ, and Income Level on Motivation Paying Zakat on LPDU Sultan Agung. The population in this study are all obligatory zakat (muzakki) who pay zakat on income with a pay cut. And the sample in this study is the individual obligation of zakat in LPDU Sultan Agung as many as 125 people. Then the selected sampling technique was purposive sampling analysis tool used is multiple regression analysis. The results obtained from this study is that it can be concluded that the test results influence the motivation Gender pay zakat suggests that Type klamin no significant effect on the motivation to pay zakat. While the results of testing the influence of level of faith, knowledge of islam, LAZ governance and motivation level of income to pay zakat indicates that the variable has positive and significant impact on motivation to pay zakat. Keywords: Compulsory Zakat (Muzakki), LAZ, Motivation, Zakat PENDAHULUAN Zakat bukan sesuatu yang baru dalam pandangan orang-orang Islam. Orang-orang Islam sangat mempercayai dan meyakini bahwa zakat merupakan salah satu dari pilar agama Islam. Kebanyakan orang Islampun berkeyakinan bahwa zakat mempunyai peran yang sangat penting dalam pemberdayaan ekonomi umat. Permasalahan yang sering muncul ditengah masyarakat kita adalah kepada siapa zakat harus diberikan. Lebih utama disalurkan langsung oleh muzakki kepada mustahiq, atau sebaliknya melalui amil zakat. Jika disalurkan kepada mustahiq, memang ada perasaan tenang karena menyaksikan secara langsung zakatnya tersebut telah disalurkan kepada mereka yang dianggap berhak menerimanya. Dan apabila melalui lembaga amil zakat ada tingkat kepercayaan tersendiri. Dalam perspektif nasional, badan amil zakat atau lembaga amil zakat diharapkan tidak hanya terpaku pada memikirkan kebutuhan sendiri, melainkan juga mau terlibat dan melibatkan diri untuk memberi kepedulian terhadap warga masyarakat guna mengatasi kemiskinan dan kemelaratan. Dengan demikian, kehadiran badan amil zakat di samping bersifat keagamaan, juga ditempatkan dalam konteks cita-cita bangsa, yaitu membangun masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Oleh karena itu peningkatan daya guna badan amil zakat, khususnya dalam melakukan pembangunan ekonomi masyarakat mesti dilakukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi muzakki dalam membayar zakat atas penghasilan adalah faktor jenis kelamin, tingkat keimanan, pengetahuan tentang islam, tata kelola, dan tingkat pendapatan (Abu Bakar dan CORE Metadata, citation and similar papers at core.ac.uk Provided by Portal Jurnal Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)