Jurnal Ilmu Kedokteran Dan Kesehatan, Volume 6, Nomor 4, Oktober 2019 304 EFEK ANTIDIABETES TANAMAN OKRA (Abelmoschus esculentus) Cahaya Carla Bangsawan 1 , Intanri Kurniati 2 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Abstract: Antidiabetic Effect of Okra (Abelmoschus esculentus). Diabetes mellitus is a degenerative disease characterized by blood sugar levels 200 mg/dL, and fasting blood sugar levels 126 mg/dL or plasma blood sugar level 2 hours on an oral glucose tolerance test (OGTT) 200 mg/dL followed by symptoms of polydipsia, polyuria, and polyphagia. Based on 2018 Riskesdas data, the largest sufferers of diabetes mellitus are in the range of 55 – 64 years and 65 – 74 years and are more dominated by women (1.8%) than men (1.2%) and are mostly found in urban areas (1.9%) compared to rural areas (1.0%). Long term use of drugs as diabetes therapy often causes several side effects that ultimately reduce the level of patient compliance in taking a drug. The okra (Abelmoschus esculentus) which belongs to Malvaceae family is a plant which is widespread in Indonesia and even in the world. This plant is widely consumed as an alternative therapy to treat diabetes mellitus by the public. This article review focuses on the influence of okra (Abelmoschus esculentus) as an anti-diabetic. Conclusion, the okra (Abelmoschus esculentus) can be an alternative therapy to control blood sugar levels in people with diabetes mellitus Keywords: Diabetes Mellitus, Okra, Abelmoschus esculentus Abstrak: Efek Antidiabetes Tanaman Okra (Abelmoschus esculentus). Diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal dimana kadar gula darah sewaktu sama atau melebihi 200 mg/dL, dan kadar gula darah puasa di atas atau sama dengan 126 mg/dL atau kadar gula darah plasma 2 jam pada Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) 200 mg/dL diikuti dengan gejala polidipsia, poliuria, dan polifagia. Berdasarkan data Riskesdas 2018, penderita diabetes melitus terbesar berada pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun serta lebih didominasi oleh wanita (1.8%) dibandingkan pria (1.2%) dan banyak ditemui di daerah perkotaan (1.9%) dibandingkan perdesaan (1.0%). Penggunaan obat jangka panjang sebagai terapi diabetes sering kali menimbulkan beberapa efek samping yang akhirnya menurunkan tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat. Buah okra (Abelmoschus esculentus) termasuk dalam keluarga Malvaceae merupakan tanaman yang tersebar luas di Indonesia bahkan di dunia. Tanaman ini banyak dikonsumsi sebagai alternatif terapi untuk mengobati penyakit diabetes melitus oleh masyarakat. Review artikel ini tertuju pada pengaruh tanaman okra (Abelmoschus esculentus) sebagai anti diabetes. Simpulan, tanaman okra dapat menjadi terapi alternatif untuk mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus. Kata kunci:Diabetes Melitus, Tanaman Okra, Abelmoschus esculentus PENDAHULUAN Pada kondisi saat ini, penyakit degeneratif telah masuk ke dalam sepuluh besar penyakit yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia, salah satunya yaitu diabetes melitus (Depkes RI, 2008).Prevalensi serta jumlah kasus penderita diabetes semakin meningkat dalam beberapa dekade terakhir (WHO, 2016). Pada tahun 2012, diabetes menyebabkan 1,5 juta kematian dan pada kadar gula darah yang lebih tinggi dari standar maksimum akan menyebabkan tambahan 2,2 juta kematian serta akan terjadi peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan komplikasi lainnya (Kemenkes RI, 2014). Berdasarkan data Riskesdas 2018, penderita diabetes melitus terbesar berada pada rentang usia 55-64 tahun dan 65-74 tahun serta lebih didominasi oleh wanita (1.8%) dibandingkan pria (1.2%) dan banyak ditemui di daerah perkotaan (1.9%) dibandingkan