Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 6, H 029-032 https://doi.org/10.32315/ti.6.h001 Prosiding Temu Ilmiah IPLBI 2017 | H 029 Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe ISBN 978-602-17090-8-5 E-ISBN 978-602-51605-0-9 Orientasi Rumah dan Pengaruhnya terhadap Suhu dalam Ruang pada Perumahan Gapura Satelit Indah Husni Kuruseng 1 , Rusdianto 2 , Syarifa Ajrinah 3 , Arinda Wahyuni 4 , Edward Syarif 5 1 Lab. Sains Bangunan/Departemen Arsitektur/Fakultas Teknik/ Universitas Hasanuddin. 2,3,4 Mahasiswa Pascasarjana Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin. 5 Lab. Disain Perumahan dan Lingkungan Permukima/Departemen Arsitektur/Fakultas Teknik/Universitas Hasanuddin. Korespondensi: kurusenghusni@gmail.com Abstrak Cahaya matahari dibutuhkan dalam rumah tinggal selain untuk kebutuhan visual tetapi juga kesehatan. Namun, cahaya matahari juga membawa panas yang berpengaruh pada suhu dalam ruang. Penilitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh orientasi rumah terhadap suhu dalam ruang dengan mengukur dan menganalisis perbedaan suhu yang terjadi pada rumah yang menghadap barat dan timur, serta tindakan yang dapat diambil untuk mengantisipasi efek negatif sinar matahari untuk mendapatkan suhu yang ideal di dalam ruang. Hasil analisis menunjukkan bahwa rumah yang orientasinya menghadap barat memiliki suhu yang cenderung lebih tinggi dari pada yang menghadap ke timur. Namun, kedua orientasi ini sama – sama tidak berada dalam skala suhu ideal yang berkisar 24°c sampai dengan 27°c. Kata-kunci : orientasi bangunan, radiasi matahari, suhu Pendahuluan Indonesia terletak pada garis khatulistiwa yang menyebabkannya terpapar sinar matahari merata selama 12 jam. Hal tersebut membuat Indonesia menjadi daerah yang termasuk daerah beriklim tropis, dengan ciri-ciri kelembaban udara tinggi, suhu udara relatif tinggi dan radiasi matahari yang tinggi/ menyengat pula. Kondisi ini merupakan tantangan tersendiri dalam penentuan orientasi bangunan. Sebagaimana dikatakan oleh Van Romondt bahwa arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia dengan bahagia, ditegaskan pula oleh Djauhari Sumintardja bahwa arsitektur merupakan sesuatu yang dibangun manusia untuk kepentingan badannya (melindungi diri dari gangguan) dan kepentingan jiwanya (kenyamanan, ketenangan, dll). Maka dalam penyusunan konsep desain suatu bangunan, faktor orientasi matahari menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan orientasi bangunan. Orientasi rumah secara umum, ditujukan untuk menempatkan posisi rumah sesuai dengan potensi- potensi dan menghindari sisi negatif yang ada pada kondisi iklim dan lingkungan tersebut, untuk daerah tropis lembab orientasi rumah diutamakan untuk mengantisipasi pengaruh sinar matahari yang berlebihan. Dengan orientasi yang berbeda tingkat intensitas radiasi matahari yang masuk akan berbeda - beda, mempengaruhi kenyamanan thermal dalam ruang. Selain intensitas sinar matahari yang masuk, akibat perbedaan orientasi juga membedakan arah rumah yang ideal dan tidak ideal terhadap arah angin. Dalam proses mendesain bangunan untuk me- manfaatkan cahaya alami secara maksimal ada beberapa aktifitas yang perlu diperhatikan seperti, orientasi bangunan terhadap matahari, tata massa bangunan, pemilihan bukaan, perlindungan fasade danbukaan terhdap radiasi matahari, penmabahan perlindungan lainnya seperti tirai untuk mengontrol cahaya matahri yang masuk ke dalam bangunan serta mendesain pencahayaan buatan. (Karlen, 2006) Cahaya matahari yang dibutuhkan sebuah rumah tinggal bukan semata-mata untuk memenuhi