Available online at: http://journal.uinsgd.ac.id/index.php/kt Khazanah Theologia, Vol. 5 No. 3 (2023): 179-200 DOI: 10.15575/kt.v5i3.24699 *Corresponding Author Received: December 15, 2022; Revised: February 12, 2023; Accepted: March 18, 2023 Enhancing Resilience through Emotional Intelligence in Religious Communities for Crime Prevention Post-COVID-19 Lemon Madoda Phiri 1 , Adewale A. Olutola 2 , Jacob Tseko Mofokeng 3* 1-3 Tshwane University of Technology, South Africa Email: mofokengjt@tut.ac.za Abstract The aftermath of COVID-19 has wrought significant emotional distress, exacerbating the incidence of emotionally motivated crimes, particularly within families. This phenomenon presents a substantial challenge to the South African Police Service (SAPS), especially due to the private nature of these crimes. In response, this study investigates whether the religious community in the Mamelodi policing area can leverage emotional intelligence (EI) to foster resilience and aid in crime prevention. We employed a quantitative approach, utilizing non-probability sampling to survey 104 adult Christians in Mamelodi. Participants provided informed consent. The Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Short Form (TEIQue-SF) was used for assessment, covering four EI variables: emotionality, self-control, sociability, and well-being. The findings reveal a high level of EI, with scores of 74.06% for emotionality, 68.41% for self-control, 59.26% for sociability, and an impressive 86.84% for well-being, culminating in an overall EI score of 72.14%. These results suggest that Mamelodi's churches are effective community-based entities capable of collaborating with SAPS to prevent emotionally driven crimes, through resilience-building rooted in EI competencies. This research contributes to the South African academic discourse by intersecting psychology, policing, and community studies, particularly focusing on a township population often living below the poverty line and with limited EI awareness. Keywords: Crime; covid-19; emotional intelligence (EI); religious community. Abstrak Dampak dari COVID-19 telah menyebabkan stres emosional yang signifikan, meningkatkan insiden kejahatan yang didorong oleh emosi, terutama dalam keluarga. Fenomena ini menimbulkan tantangan besar bagi Layanan Kepolisian Afrika Selatan atau South African Police Service (SAPS), terutama karena sifat pribadi dari kejahatan ini. Sebagai tanggapan, penelitian ini menyelidiki apakah komunitas agama di area polisi Mamelodi dapat memanfaatkan kecerdasan emosional untuk membentuk ketahanan dan membantu dalam pencegahan kejahatan. Kami menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan sampling non-probabilitas untuk mensurvei 104 orang Kristen dewasa di Mamelodi. Para partisipan memberikan persetujuan yang terinformasi. Trait Emotional Intelligence Questionnaire-Short Form (TEIQue-SF) digunakan untuk penilaian, yang mencakup empat variabel kecerdasan emosional: emosionalitas, kontrol diri, kebersamaan, dan kesejahteraan. Temuan mengungkapkan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi, dengan skor 74,06% untuk emosionalitas, 68,41% untuk kontrol diri, 59,26% untuk kebersamaan, dan 86,84% yang mengesankan untuk kesejahteraan, berujung pada skor kecerdasan emosional keseluruhan sebesar 72,14%. Hasil ini menunjukkan bahwa gereja-gereja di Mamelodi adalah entitas berbasis komunitas yang efektif dan mampu berkolaborasi dengan SAPS untuk mencegah kejahatan yang didorong oleh emosi, melalui pembangunan ketahanan yang berakar pada kompetensi kecerdasan emosional. Penelitian ini berkontribusi pada wacana akademik Afrika Selatan dengan menggabungkan psikologi, kepolisian, dan studi komunitas, terutama berfokus pada populasi kota yang sering hidup di bawah garis kemiskinan dan dengan kesadaran kecerdasan emosional yang terbatas. Kata Kunci: Kejahatan; COVID-19; kecerdasan emosional; komunitas agama