45 Jurnal Psikologi Konseling Vol. 7 No.1, Desember 2015 Program Bimbingan Belajar Untuk Mengembangkan Resiliensi Akademik Siswa Boarding School (Studi Deskriptif Terhadap Siswa SMA) Rafael Lisinus Ginting rafaelginting@gmail.com Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Medan Abstrak Performa akademik yang baik merupakan tuntutan sekaligus ciri keberhasilan siswa dalam bidang akademik. Oleh karena itu sekolah berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan akademik yang terbaik tak terkecuali sekolah dengan sistem boarding school. Siswa yang dapat memenuhi tuntutan akademik pastinya akan menunjukan performa yang terbaik, tetapi sebaliknya, siswa yang tak mampu bertahan di tengah tekanan dan persaingan tentu akan tenggelam ditambah dengan problematika boarding school lainnya. Resiliensi akademik dengan tujuah aspeknya yaitu pengaturan emosi, pengendalian dorongan, optimisme, efikasi diri, empati, analisis sebab akibat dan membuka diri dapat membantu siswa untuk bertahan di lingkungan akademik dengan tuntutan tinggi seperti boarding school. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran resiliensi akademik siswa boardings school dan menyusun program bimbingan belajar yang efektif untuk mengembangkan resiliensi akademik siswa boarding school. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat resiliensi akademik siswa SMA boarding school berada pada kategori sedang. Rekomendasi diberikan kepada: (1) pihak sekolah diharapkan mampu memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis siswa (2) guru pembimbing diharapkan mengembangkan program bimbingan belajar untuk mengembangkan resiliensi akademik dengan strategi yang lebih beragam (3) peneliti selanjutnya menggunakan tekhnik konseling tertentu untuk menangani siswa dengan resiliensi akademik pada kategori rendah. Kata kunci: resiliensi, akademik, boarding school, bimbingan akademik PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Terdapat dua fenomena dalam sistem pendidikan Indonesia yang terjadi akhir-akhir ini, yakni munculnya sekolah- sekolah terpadu (mulai tingkat dasar hingga menengah) dan penyelenggaraan sekolah bermutu yang sering disebut Boarding School. Sekolah Menengah Atas Boarding School merupakan salah satu pendidikan jenjang menengah yang mengintegrasikan pendidikan dengan kurikulum konvensional dan keagamaan. Nama lain dari istilah sekolah Boarding School adalah sekolah berasrama. Para siswa mengikuti pendidikan regular dari pagi sampai siang di sekolah, kemudian dilanjutkan dengan pendidikan agama atau nilai-nilai khusus sepanjang hari. Selama 24 jam siswa berada di bawah pendidikan dan pengawasan para guru dan pembimbing. Boarding School menuntut siswanya mengikuti berbagai aktivitas dan tuntutan akademik. Siswa Boarding School dengan tuntutan tugas akademik yang tinggi dan keterbatasan interaksi dengan dunia luar memerlukan bantuan instrumental dari