pISSN:2355-7583 | eISSN:2549-4864 http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan age 3504 of 11 Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 10, No. 12, Desember 2023 3504 STUDI LITERATUR: DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA ATRESIA ESOFAGUS R.R. Ditya Mutiara Syifa 1* , Dira Kurnia Rizki 2 , Erdira Natasya Putri 3 , Reny Apryani 4 , Restia 5 , Zikrul Haikal 6 1-5 Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram 6 Staf Pengajar Bagian Bedah Digestif, Fakultas Kedokteran Universitas Mataram *) Email korespodensi: dityasyifa212@gmail.com _______________________________________________________________ Abstract: Literature Study: Diagnosis and Treatment of Esophageal Atresia. Esophageal atresia (EA) is a rar condition with an incidence of 2.43 cases per 10,000 births. EA is a developmental defect of the upper digestive tract in the form of an incontinuity between the upper and lower esophaguses. The existence of intensive services in infants can reduce the mortality rate in babies with low birth weight. However, there is also a group of babies with esophageal atresia who have a low life expectancy due to congenital congenital concomitant abnormalities. The diagnosis of esophageal atresia can be established both prenatally and postnatally. Prenatal diagnosis is carried out on the mother by means of ultrasonography. Postnatal diagnosis in esophageal atresia is established in case of incapacity or difficulty of NGT or OGT passing through the esophagus. Other examinations to establish a postnatal diagnosis are bronchoscopy or esophagoscopy and pathological results. Procedures that can be done on esophageal atresia are surgery, supportive treatment, and the giving of antibiotics, ampicillin, and gentamicin according to the case being treated. The purpose of surgery is to connect the upper esophageal sac with the bottom. The diagnosis of esophageal atresia should be carried out as early as possible so that complications in the lungs can be minimized. Keywords: Esophageal Atresia, Diagnosis, Management Abstrak: Studi Literatur: Diagnosis Dan Tatalaksana Atresia Esofagus. Atresia esofagus (AE) merupakan kondisi langka dengan insiden 2,43 kasus per 10.000 kelahiran. Atresia esofagus (AE) adalah cacat perkembangan saluran pencernaan bagian atas berupa inkontinuitas antara esofagus bagian atas dan bawah. Adanya pelayanan intensif pada bayi dapat menekan angka kematian pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Namun, terdapat juga beberapa bayi dengan kelainan atresia esofagus disertai dengan kelainan kongenital penyerta sehingga memiliki harapan hidup yang rendah. Diagnosis atresia esofagus dapat ditegakkan melalui diagnosis prenatal dan juga postnatal. Diagnosis prenatal dilakukan dengan cara USG pada ibu hamil. Diagnosis postnatal pada atresia esofagus ditegakkan jika terjadi ketidakmampuan atau kesulitan NGT atau OGT melewati esofagus. Pemeriksaan lain untuk menegakkan diagnosis postnatal adalah dengan hasil endoskopi (bronkoskopi ataupun esofagoskopi) dan hasil patologis. Tatalaksana yang dapat dilakukan pada atresia esofagus yaitu pembedahan, perawatan suportif serta pemberian antibiotik, ampicillin, dan gentamisin sesuai dengan kasus yang ditangani. Tujuan dari pembedahan adalah untuk menyambungkan kantung esofagus bagian atas dengan bagian bawah. Penegakan diagnosis atresia esofagus dianjurkan dilakukan sedini mungkin agar komplikasi pada paru dapat diminimalkan. Kata Kunci: Atresia Esofagus, Diagnosis, Tatalaksana