31 LAPORAN KASUS JURNAL KOMPLIKASI ANESTESI VOLUME 8 NOMOR 1, November 2020 Manajemen Pasien Leptospirosis di ICU Akhmad Yun Jufan, Untung Widodo, Nugraha Septian Bahrun Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia ABSTRAK Dilaporkan seorang laki-laki berusia 54 tahun dengan diagnosis leptospirosis, syok sepsis, dan Sindrom Disfungsi Organ Multipel. Pasien rujukan dari RSUD Prambanan dengan keluhan utama demam tinggi disertai mata dan badan berwarna kuning, nyeri kepala, nyeri betis, badan pegal linu, mual, muntah, sesak nafas, buang air kecil berwarna seperti air teh. Dari anamnesis didapatkan adanya kemungkinan riwayat kontak dengan hewan yang menjadi sumber penularan leptospirosis yaitu tikus. Pasien dirawat di ICU untuk penanganan lebih lanjut. Selama perawatan sempat dilakukan hemodialisis karena terjadi peningkatan ureum. Setelah dirawat beberapa hari, kondisi pasien membaik dan perawatan dilanjutkan di bangsal oleh sejawat penyakit dalam. Kata kunci: leptospirosis; sepsis; Sindrom Disfungsi Organ Multipel; unit perawatan intensif ABSTRACT We reported a 54-year-old male patient with leptospirosis, septic shock, and MODS. Patient is referred from RSUD Prambanan with chief complaint of high fever accompanied by yellow eyes and body, headache, calf pain, body aches rheumatic pain, nausea, vomiting, shortness of breath, and tea colored urine. From history taking, it was found that there was a possibility of a history of contact with animals that were the source of transmission of leptospirosis, namely rats. The patient was treated in the ICU for several days. During treatment, hemodialysis was performed several times due to an increase in blood urea. After being treated for several days, the patient’s condition improved and treatment was carried out on the ward by internist. Keywords: intensive care unit; leptospirosis; Multiple Organ Dysfunction Syndrome; sepsis PENDAHULUAN Leptospirosis merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh mikroorganisme leptospira. Leptospirosis dapat menyerang manusia atau hewan dan digolongkan dalam penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia). Penularan ini sering terjadi secara tidak disengaja dan biasanya terinfeksi melalui kulit atau selaput mukosa yang terluka. Penyakit leptospirosis ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat terutama di negara tropis dan subtropis. Hal ini akibat curah hujan yang tinggi, kesehatan lingkungan yang kurang baik, regulasi sampah yang belum teratur. 1 Leptospirosis ringan diperkirakan mencapai 90% dari seluruh kasus dengan gejala berupa demam, sakit kepala, dan nyeri otot (myalgia). Sementara itu, 10% sisanya merupakan leptospirosis berat yang disertai dengan kegagalan ginjal, sakit kuning, dan pendarahan. 2 Angka perkiraan kejadian infeksi leptospirosis di dunia sekitar 100 per 100.000 populasi pada grup yang berisiko tinggi, dengan proporsi angka kematian mencapai 22%. Di Indonesia, angka kejadiannya cukup tinggi dan angka kematian pun cukup besar. Indonesia menempati peringkat ke tiga di dunia. Data dari Pusat Pengendalian Krisis