NILAI MORAL DAN NILAI FILOSOFI DALAM CERITA WAYANG DENGAN LAKON “PARIKESIT DADI RATU” Muhsim 1) , Dwi Setyadi 2) , Lulus Irawati 3) Universitas PGRI Madiun 1) dwimuhsim@gmail.com 2) dwisetiyadi@unipma.ac.id 3) lulusirawati@unipma.ac.id Abstrak Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan cerita wayang Parikesit Dadi ratu, (2) mendeskripsikan nilai moral dalam cerita wayang Parikesit Dadi ratu, (3) mendeskripsikan nilai filosofi dalam cerita wayang Parikesit Dadi ratu. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji cerita dari VCD pementasan wayang kulit dengan cerita “Parikesit Dadi Ratu” oleh Ki Dalang Enthus Susmono. Data hasil penelitian kemudian ditranskripsikan dan diterjemahkan data kemudian menganalisis berdasarkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dalam mentranskripsikan cerita penelii menggunakan teori yang dikemukakan oleh Suripan Sadi Hutama serta teori Suwardi Endraswara sebagai pelengkap. Dari hasil temuan penelitian yang berkaitan dengan fokus penelitian diperoleh hasil sebagai berikut: (1) dikaji dari aspek cerita, wayang dengan cerita Parikesit Dadi Ratu menceritakan tokoh Kerti Windu yang mempunyai keinginan untuk menggagalkan penobatan/pengukuhan Parikesit menjadi raja, (2) dikaji dari aspek nilai, cerita wayang Parikesit Dadi Ratu mengandung nilai moral dan nilai filosofi. Kata Kunci: nilai moral, nilai filosofi, wayang PENDAHULUAN Belakangan ini bangsa Indonesia sedang mengalami krisis multidimensi yang diakibatkan oleh krisis moral. Krisis multidimensi ini terjadi karena sebagian rakyat Indonesia telah mengalami kemerosotan moralitas. Hal ini terlihat dari aktivitas pelanggaran hukum yang sering terjadi di mana-mana. Terlihat prosentase pelanggaran dari tahun ke tahun selalu meningkat. Pelanggaran kriminalitas maupun moralitas menunjukkan peningkatan. Bahkan yang lebih mengerikan pelanggaran-pelanggaran anak di bawah umur. Menurut Miftakh (2011:7) salah satu terjadinya krisis moral berawal dari semakin jauhnya bangsa Indonesia terhadap kebudayaan Indonesia dan makin maraknya budaya- budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya asli Indonesia. Bahkan saat ini sebagian generasi muda Indonesia lebih senang menerapkan budaya asing daripada budaya kita sendiri. Hal ini terlihat dari gaya berpakaian maupun dalam bertingkah laku. Farida Nugrahani (2009: 213) menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah banyak mengalami kemerosotan moral. Bangsa ini telah tidak mampu lagi mengenali jati dirinya sebagai bangsa yang memiliki budaya luhur yang telah diwariskan para pendahulu kita. Fakta tersebut sangat ironis bila dikatkan dengan sebutan bangsa Indonesia sebagai bangsa timur yang berkepribadian luhur, andhap asor, lembah amanah, santun, ramah, seperti yang selama ini dibangga-banggakan. Fakta menunjukkan, di televisi hampir tiap hari dapat kita saksikan sebagai kerusuhan terjadi di seluruh pelosok tanah air. Selain itu, kita saksikan banyak pula tidak kekerasan,