Jurnal Poetika Vol. No. 2, Desember 2014 127 PERGESERAN KEKUASAAN NEGARA DAN RELASI ANTARSUBJEK DALAM CERPEN ORDE BARU DAN REFORMASI Akhmad Rizqi Turama Alumni Sastra Indonesia Universitas Sriwijaya Email: a.rizqiturama@gmail.com Abstrak Masalah dalam makalah ini adalah bagaimana perspektif kekuasaan negara dan relasi antarsubjek dalam cerpen “Godlob” karya Danarto dan “Clara” karya Seno Gumira Ajidarma. Cerpen pertama merupakan perwakilan dari zaman Orde Baru sedangkan cerpen kedua merupakan perwakilan dari era reformasi. Penelitian ini menggunakan dua teori, yakni teori hegemoni Gramsci dan teori kekuasaan Foucault. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada pergeseran instrumen hegemoni negara, pergeseran wacana militer, pergeseran wacana lembaga negara, dan pergeseran relasi antarsubjek dari zaman Orde Baru ke era reformasi. Kata kunci: cerpen, Orde Baru, Reformasi, Gramsci, Foucault. Abstract The focus in this paper is how the state power’s perspective and inter subject relation in Danarto’s “Godlob” and Seno Gumira Ajidarma’s “Clara”. The first short story is the representation of Orde Baru while the second is the representation of reformation era. This paper uses two theories, Gramsci’s idea about Hegemony and the Foucault’s notion about power. The result of this research shows that there are changes in state hegemonic instrument, military discourse, state institute discourse, and inter subject relation from the Orde Baru to the reformation era. Keywords: short story, Orde Baru, Reformation, Gramsci, Foucault. Pendahuluan Sebagaimana dipahami dan dirasakan oleh semua orang, runtuhnya rezim Soeharto telah berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, maupun pandangan hidup, sehingga membentuk kondisi yang kini disebut sebagai era demokrasi. Karya sastra, sebagai produk kebudayaan, tak dapat dilepaskan dari efek tersebut, bahkan dalam beberapa peranannya karya sastra justru menjadi medium intervensi atas sikap otoriter pemerintah. Menempatkan karya sastra dalam posisi demikian merupakan hal yang konkret dan relevan. Eagleton (2002: 7) secara tegas menyatakan bahwa karya sastra adalah bentuk-bentuk persepsi, cara khusus dalam memandang dunia, dan juga memiliki relasi dengan cara memandang realitas yang menjadi mentalitas atau ideologi sosial suatu zaman. Posisi demikian membuka hipotesis awal bahwa karya sastra secara otomatis selalu berdiskusi dengan zamannya. Dinamika, baik dalam tataran tekstual, gagasan, maupun gaya estetik penceritaan, akan selalu muncul dan mengalami perubahan. Terkait konteks spesifiknya, perubahan situasi dari era Orde Baru menuju Reformasi tentu memiliki konsekuensi logis terhadap karya sastra di kedua zaman itu. Orde Baru dipahami identik dengan kekuasaan negara, sementara Reformasi identik dengan era keterbukaan, mengabaikan kekuasaan negara, dan bergerak menuju otonomi subjek. Bertolak dari kondisi tersebut, dalam kesempatan ini akan dibuktikan bagaimana perubahan yang muncul di kedua zaman itu dalam karya sastra, khususnya cerpen. Pembahasan ini akan berfokus pada problem kontekstual, yakni persoalan wacana kekuasaan: dominasi negara dan kedudukan subjek. Oleh karena itu, secara spesifik digunakan teori Hegemoni Gramsci dan Teori Kekuasaan Foucault untuk mendekati persoalan. Teori Hegemoni Gramsci dalam hal ini dipahami untuk membahas kekuasaan negara, sementara teori Foucault dipahami untuk membahas kedudukan dan kekuasaan subjek. brought to you by CORE View metadata, citation and similar papers at core.ac.uk provided by Jurnal POETIKA