26 MERUBAH KONSEP DIRI NEGATIF REMAJA DENGAN BIBLIOTHERAPY Fadhilah Syafwar Program Studi Bimbingan Konseling, Jurusan Tarbiyah, STAIN Batusangkar Korespondensi: Jl. Sudirman No. 137, Kuburajo, Lima Kaum, Batusangkar, Sumatera Barat. e-mail: fadhilah.syafwar@gmail.com Abstract It is a fact that the symptom of misbehaviour among teenagers is not suddenly occurred. It could be caused by several factors such as lack of social supports from family as well as peer. One of other contributing factors is self-concept on negative aspects. Negative self-concept is potentially to be changed by using bibliotherapy. Bibliotherapy could scientifically be used as therapy to change self-concept from negative ones to the positive ones. The bibliotherapy might be implemented using individual, group, and classical approach. These approaches could be executed by counsellors to help teenagers have a positive self-concept. Kata kunci: merubah, konsep diri negatif, remaja, bibliotherapy PENDAHULUAN emaja sebagai generasi penerus dalam melanjutkan pembangun- an bangsa. Berbagai upaya dila- kukan dalam pembinaan remaja, ter- masuk melalui pendidikan dan pem- belajaran di sekolah, dan di luar sekolah seperti pendidikan jalur paket A, B dan C serta berbagai pelatihan dan pem- binaan keterampilan yang dilakukan pe- merintah dan masyarakat. Usaha pem- binaan remaja tidak selalu mencapai hasil yang maksimal, ada tantangan dan hambatan yang dapat ditemui. Tantang- an dan hambatan tersebut berkaitan de- ngan diri remaja yang bersangkutan. Tantangan dari diri remaja diantaranya konsep diri remaja yang masih negatif. Konsep diri remaja berkaitan de- ngan permasalahan yang dialami peserta didik usia remaja dalam Santrock 2 (2007: 9) Streotip mengenai remaja misalnya” mereka mengatakan ingin be- kerja, namun ketika telah mendapat- kannya mereka tidak ingin bekerja”. “Mereka itu pemalas semuanya” “Me- reka semua adalah penyuka seks” “me- reka semua adalah peminum”. “Anak- anak zaman sekarang tidak memiliki akhlak seperti yang dimililiki oleh gene- rasi saya”, “Masalah anak-anak muda sekarang adalah “Mereka itu terlalu mu- dah mendapatkan segala sesuatu” “Me- reka adalah segerombolan orang-orang sok pintar” Konsep diri dalam (Mudjiran dkk 2005: 137) berkaitan dengan prestasi se- kolah, dengan penyesuaian sosial, de- ngan karir dan dengan kenakalan re- maja. Remaja nakal cenderung meng- hayati diri mereka sebagaimana orang lain memandang mereka. Jika mereka selalu disebut sebagai anak malas, tidak sopan, masa bodoh, dan banyak lagi label buruk yang ditimpakan kepada mereka (Jemme, b Dunsek, 1977), maka akibatnya mereka berpendapat bahwa diri mereka tidak diinginkan oleh orang lain. Oleh karena itu mereka mencari pertahanan diri dengan bertingkah laku R