JPK 3 (2) (2017): 197-204 Jurnal Profesi Keguruan https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Kedisiplinan Siswa Kelas XI SMA N 5 Semarang Melalui Model PBL Materi Transformasi Geometri Kresni Winanti 1) , Yuliyani 2) , Arief Agoestanto 3) 1) SMA Negeri 5 Semarang 2)3) Universitas Negeri Semarang Abstrak Kemampuan komunikasi matematis (mathematical communication) dalam pembelajaran matematika sangat perlu untuk dikembangkan. Hal ini karena melalui komunikasi matematis siswa dapat mengorganisasikan berpikir matematisnya baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, tingkat kedisiplinan siswa diperlukan untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan kedisiplinan siswa melalui model PBL. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah 33 siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 5 Semarang Tahun Pelajaran 2017/2018. Instrumen pengambilan data meliputi lembar evaluasi kemampuan komunikasi matematis, lembar observasi, angket, dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah diskriptif komparatif. Materi yang digunakan adalah transformasi geometri. Indikator penelitian yaitu kemampuan komunikasi matematis dan kedisiplinan siswa pada siklus I meningkat dari pra siklus dan meningkat dari siklus satu ke siklus berikutnya. Hasil penelitian diperoleh rata-rata kemampuan awal siswa adalah 62,07. Nilai rata-rata evaluasi siklus 1 adalah 81,33. Sedangkan rata-rata kedisiplinan siswa meningkat menjadi 76,47 pada siklus 1. Pada siklus II diperoleh nilai rata-rata evaluasi 87,33 dan rata-rata kedisipinan siswa 87,06. Berdasarkan hasil penelitian pada siklus I dan II, dapat disimpulkan bahwa PBL dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis dan kedisiplinan siswa. Kata Kunci: Komunikasi Matematis, Kedisiplinan, PBL, Transformasi Geometri. PENDAHULUAN Matematika sebagai ilmu dasar mempunyai peranan sangat penting untuk mencapai keberhasilan pembangunan dalam segala bidang. Pernyataan tersebut berlandaskan pada asumsi bahwa penguasaan matematika akan menjadi sarana yang ampuh untuk mempelajari mata pelajaran lain (Elida, 2012: 178). Oleh karena itu perlu adanya peningkatan kualitas pembelajan matematika. Hal ini tentu menjadi tugas pokok bagi seorang pendidik untuk terus berkarya dan berinovasi dalam kegiatan pembelajaran. Kemampuan komunikasi matematis (mathematical communication) dalam pembelajaran matematika sangat perlu untuk dikembangkan. Hal ini karena melalui komunikasi matematis siswa dapat mengorganisasikan berpikir matematisnya baik secara lisan maupun tulisan. Selain itu, siswa dapat memberi respon yang sesuai dan tepat dengan media atau materi pembelajaran. Bahkan dalam kehidupan bermasyarakat, kemampuan berkomunikasi sangat dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Peneliti mengadakan observasi awal melalui wawancara dengan guru matematika dan tes kemampuan awal siswa kelas XI MIPA 2 SMAN 5 Semarang. Hasil wawancara menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam kemampuan komunikasi matematis. Kebanyakan siswa lebih suka mengerjakan soal-soal yang sederhana. Siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal cerita yang lebih rumit dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengerjakannya. Hasil tes kemampuan awal terhadap siswa juga menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan saat mengerjakan soal kontekstual pada materi transformasi geometri. Tingkat kedisiplinan siswa masih rendah, hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya siswa yang belum selesai tepat waktu saat mengerjakan soal. Ketika guru memberikan pekerjaan rumah dalam batasan waktu tertentu, siswa tidak mengumpulkan