1 PENTINGNYA SUPPORT SYSTEM BAGI ANAK ATTENTION DEFICIT HYPERACTIVITY DISORDER (ADHD) 1 Diyah Mardiyanti, 2 Puput Lestari, 3 Yusuf Yuniar Ratus, 4 Rani Fitrianingrum, 5 Ima Yuni Pasaningsih, 6 Asrofi'ah, 7 Sukirno Magiter Pendidikan Dasar Universitas Muhammadiyah Purwokerto PENDAHULUAN Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau gangguan yang berupa kegiatan dan juga perhatian (gangguan hiperkinetik) merupakan bentuk gangguan psikiatrik ditandai dengan gejala utama berupa hiperaktivitas, kurangnya perhatian, dan impulsivitas yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan tidak sesuai dengan perkembangan usia (Mirnawati, 2019). Selain itu ADHD merupakan gangguan perkembangan dan neurologis. Seseorang dengan ADHD akan mengalami perilaku terlalu aktif (hiperaktif), perilaku impulsiv (bertindak tanpa memikirkan konsekuensi dari tindakannya), kesulitan dalam konsentrasi, dan regulasi emosi. Perilaku yang terlalu aktif dan impulsiv ini membuat anak-anak dengan ADHD seringkali merasa kesulitan dalam bergaul dengan anak-anak yang lainnya. Gangguan ADHD bisa berlangsung selama masa kehidupan yaitu mulai anak-anak kemudian remaja dan sampai dewasa. Gangguan ini meningkatkan risiko ketidakberhasilan akademik, penolakan sosial, dan konflik keluarga, sikap menentang, prestasi masih kurang, serta masih banyak lagi permasalahan pada fisik maupun psikis. Dalam keseharian banyak orang beranggapan anak ADHD merupakan anak usil, nakal, sumber masalah, penentang, tidak ada sopan santun, hal ini membuat mereka terkadang diperlakukan tidak baik, mendapatkan hukuman, atau dikucilkan orang-orang disekitarnya (Nurfadhillah et al., 2021). Gejala ADHD tidak dapat dianggap remeh. Gejala ini sering kali mulai ada masa usia sekolah dasar yaitu 7-11 tahun dan dapat mempengaruhi berbagai aspek seperti performa akademik, hubungan sosial masyarakat, serta fungsi pada kehidupan sehari-hari. Pada suatu penelitian menggunakan kriteria DSM-IV dengan hasil yang diperoleh 15,5% memiliki gangguan ADHD selama masa studi di sekolah dasar, mulai dari kelas satu hingga kelas lima. Hal ini menunjukkan prevalensi ADHD cukup banyak pada rentang usia awal masuk sekolah dasar secara global berada di antara 7,6% dan 15,5% (Sadida et al., 2024).