52 Jurnal Al-Makrifat Vol 1, No 1, April 2016 PENERAPAN HERMENEUTIKA DALAM KAJIAN ISLAM NASR HAMID ABU ZAYD Siti Halimah STIT PGRI Pasuruan Abstrak Kajian ini untuk mengkaji aplikasi hermeneutika Tokoh Nasr Hamid Abu Zaid dalam mengkaji Teks Al-Qur‟an. Metode yang ia gunakan ini merupakan adopsi dari wilayah luar Islam yang digunakan sebagai alat untuk memahami kitab yang “bukan” Islam (Menurut beberapa pendapat bahwa hermeneutika sebelumnya digunakan untuk memahami kitab Bible, dan dianggap tidak sesuai jika diterapkan pada Al-Qur‟an). Hasilnya adalah Teori hermeneutika Abu Zaid dalam mengkaji al-Quran, menggunakan metode analisis teks bahasa sastra. Ia membahas mengenai hakikat teks yang menjadi problem mendasar dalam sistem hermeneutika.Menurutnya wahyu Allah telah turun dengan medium bahasa manusia, sebab jika tidak maka tentu tidak akan bisa dipahami manusia. Dia menjelaskan dengan tegas bahwa al-Quran adalah perkataan Muhammad yang diriwayatkan bahwa ia adalah wahyu Ilahi. Menurutnya, firman Tuhan juga butuh beradaptasi dalam lingkup manusia, sebab ketika Allah ingin berkomunikasi kepada manusia, Maka Dia harus berbicara lewat bahasa manusia. Jika tidak, maka manusia tidak akan mengerti apa yang Allah kehendaki. Ini berujung bahwa al-Quran adalah bahasa manusia (Human Language). Menurut Nasr Hamid, teks ilahi telah berubah menjadi teks manusiawi sejak dia pertama kali diturunkan kepada Muhammad SAW. Hal itu karena menurutnya, teks sejak pertama kali diwahyukan dan sejak dibaca oleh Nabi SAW, ia telah berubah dari teks ilahi menjadi teks manusiawi. Ia berubah dari tanzil kepada takwil.Oleh sebab itu, mengkaji al-Quran tidak memerlukan metode khusus. Sekalipun asal mulanya dari Tuhan. Namun, Nasr Hamid berpendapat studi Al-Qur‟an tidak membutuhkan metode yang khususseperti yang disyaratkan oleh ulama‟ terdahulu (menghafal al - Quran, Hafal hadis dan sebagainya). Kata Kunci: Hermeneutika, Pemikiran Islam Nasr Hamid Abu Zaid Pendahuluan Pembahasan seputar Al-Qur‟an dan penafsirannya merupakan pembahasan yang tak pernah mengenal kata usai. Hal ini dikarenakan keyakinan yang mengatakan bahwa Al-Qur‟an adalah salih li kulli zaman wa makan (relevan bagi ruang dan waktu). Dan Al-Qur‟an yang katanya selalu menampilkan