J AgromedUnila | Volume 4 | Nomor 2 | Desember 2017 | 338 [TINJAUAN PUSTAKA] Agonis Reseptor GLP 1 untuk Terapi Diabetes Mellitus Tipe 2 Aulia Agristika 1 , Novita Carolia 2 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung Abstrak Diabetes Mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin atau kedua-duanya. Pengobatan Diabetes Mellitus tipe 2 terdiri atas empat pilar pengobatan yakni edukasi, gizi medis, latihan jasmani dan farmakologi. Terapi farmakologi Diabetes Mellitus tipe 2 terbagi menjadi dua yakni oral dan suntikan seperti Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1) agonist. Glukagon Like Peptide-1 adalah jenis hormon inkretin yang normalnya diproduksi oleh usus halus untuk mengatur kadar gula dengan menekan sekresi glukagon untuk merangsang sekresi insulin terhadap makanan yang berdasarkan cara kerjanya dibagi menjadi kerja pendek (<24 jam) dan kerja panjang (≥24 jam). Kata Kunci: diabetes Mellitus tipe 2, glp-1 agonist, obat antidiabetes. GLP 1 Receptor Agonist Treatment for Type 2 Diabetes Mellitus Abstract Diabetes Mellitus is a metabolic disease characterized by hyperglycemia due to impaired insulin secretion and insulin resistance or both. Treatment of Type 2 diabetes mellitus consists of four pillars of treatment namely education, medical nutrition, physical exercise and pharmacology. Pharmacological therapy of type 2 Diabetes Mellitus is divided into two, oral and injections such as Glucagon Like Peptide-1 (GLP-1) agonist. Glucagon Like Peptide-1 is a type of incretin hormone normally produced by the small intestine to regulate sugar levels by suppressing glucagon secretion to stimulate insulin secretion to foods which based on how it’s work divided into short work (<24 hours) and long work (≥24 hours). Keywords: antidiabetic drugs, diabetes Mellitus type 2, glp-1 agonist Korespondensi: Aulia Agristika, alamat Jl. Soemantri Brodjonegoro No. 1, email: auliaagristika@gmail.com Pendahuluan Penyakit Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang mengalami peningkatan terus menerus dari tahun ke tahun. Diabetes adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang tinggi (hiperglikemia) yang diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin atau keduanya. Gejala klinis penderita Diabetes Mellitus antara lain seperti polidipsi (banyak minum), poliuria (banyak berkemih), polifagi (banyak makan) dengan penurunan berat badan. Diabetes Mellitus disebut juga sebagai “The Silent Killer” karena kebanyakan penderita Diabetes Mellitus saat terdeteksi sudah disertai dengan kerusakan organ. 1 Saat ini penelitian epidemiologi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan angka insidensi dan prevalensi Diabetes Mellitus tipe 2 di berbagai penjuru dunia. World Health Organization (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang Diabetes Mellitus di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Sedangkan International Diabetes Federation (IDF) memprediksi adanya kenaikan jumlah penyandang Diabetes Mellitus di Indonesia dari 9,1 juta pada tahun 2014 menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. 1 Saat ini diperkirakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 240 juta jiwa dan menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2007, prevalensi nasional Diabetes Mellitus untuk usia diatas 15 tahun sebesar 5,7%. Dengan angka yang demikian maka Indonesia menempati peringkat ke-5 dunia, atau naik dua peringkat dibandingkan data International Diabetes Federation tahun 2013 yang menempati peringkat ke-7 di dunia dengan 7,6 juta jiwa penyandang Diabetes Mellitus. 1 Tingginya angka insidensi dan prevalensi pada penderita DM tipe 2 membuat para ilmuan dunia melakukan riset atau penelitian-penelitian tentang perkembangan terapi Diabetes Mellitus dengan tujuan untuk menurunkan angka insidensinya. Saat ini yang sedang berkembang adalah terapi berbasis inkretin yakni Glucagon Like Peptide-1(GLP-1) Receptor agonist. 1