93 PROSIDING Pemaparan Hasil Penelitian Puslit Geoteknologi – LIPI 2011 KARAKTERISTIK KUALITAS SUMBERDAYA AIR KAWASAN PANAS BUMI STUDI KASUS DIENG DAN WINDU WAYANG Igna Hadi S. 1 , Dyah Marganingrum 1 , Eko Tri Sumanardi 1 , Mutia Dewi Yuniati 1 , dan Andarta Khoir 1 1 Pusat Penelitian Geoteknologi–LIPI, Jl. Sangkuriang Bandung 40135 E-mail: ihadis@gmail.com Abstrak Seperti diketahui, adanya gejala panas bumi terkait dengan gejala aktivitas vulkanik yang relatif dangkal di permukaan. Hal tersebut tentunya sedikit banyak akan berpengaruh terhadap sistem sumberdaya air yang ada. Untuk itu perlu dilakukan penelitian kualitas sumberdaya air di kawasan panas bumi, terutama pada kawasan yang dekat pemukiman. Metodologi yang digunakan dalam studi kali ini adalah melakukan analisa kimia dari sejumlah contoh air yang di ambil dari lokasi panas bumi daerah Windu-Wayang dan Dieng. Hasil studi menunjukkan bahwa aktivitas kegiatan PLTP khususnya di daerah Windu Wayang, tidak menimbulkan pengaruh terhadap sistem tata air setempat, sedangkan di Dieng pengaruh PLTP lebih terlihat berpengaruh terhadap sumberdaya air setempat bersama-sama dengan faktor anthropogenic. Unsur kedekatan terhadap sumber fluida panas kemungkinan berperan. Hasil studi ini juga memberikan indikasi bahwa sumber air terpilih di sekitar lokasi PLTP baik di Dieng maupun Wayang Windu berkaitan erat atau mencerminkan karakteritik fluida geothermal yang ada. Secara umum, karakteristik fluida hidrothermal tidak aman untuk dikonsumsi. Strategi pemanfaatan air bersih di sekitar wilayah tersebut sebagai air minum dan untuk itu perlu dirumuskan dan demi kepentingan masyarakat setempat. Kata kunci: panas bumi, sumberdaya air, permukiman PENDAHULUAN Dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi nasional sejauh ini Indonesia ternyata masih menggantungkan pada minyak bumi, bahkan pada tahun 2015 diprediksi bahwa 41,7% kebutuhan enerji masih dipasok oleh minyak bumi. Menyadari bahwa sebenarnya Indonesia kaya akan potensi panas bumi, melalui Perpres No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, telah disusun Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional/RUKN), yang mana salah satu butirnya menyatakan bahwa tenaga panas bumi saat ini merupakan salah satu agenda utama pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan Ketenagalistrikan Nasional. Kebijakan nasional ini dengan sendirinya telah menggalakkan pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) di berbagai daerah yang memiliki potensi tersebut. Walaupun dikenal sebagai ‘clean energy’, seperti juga kegiatan pertambangan lainnya, PLTP dalam aktivitasnya terutama pada tahap eksploitasi ternyata memiliki potensi dampak lingkungan yang dapat menyangkut pada perubahan bentang alam, kebisingan, limbah panas, penggunaan air, limbah padat, limbah kimia, dan aspek sosial-ekonomi (Kubo, 2003). Dengan kata lain kegiatan PLTP dapat berpengaruh pada lingkungan yang meliputi: polusi udara, air, suara, dan penurunan permukaan tanah. Khususnya potensi gangguan terhadap sumber daya air, salah satu sumber utama adalah dengan adanya fluida panas bumi (geothermal fluid), yang memiliki kandungan kimia (mencakup unsur alkali/alkali tanah, logam berat, gas dan isotop) yang tinggi (Sagala, 2009). Adanya sebuah konsep pengelolaan lingkungan untuk kawasan di sekitar industri panas bumi menjadi kebutuhan, khususnya apabila loksai indsutri tersebut berada di sekitar atau dekat wilayah pemukiman. Penelitian terdahulu oleh Dyah Marganingrum dkk (2010) memperlihatkan bahwa sumber air (yang di dimanfaatkan penduduk) di sekitar lokasi PLTP Gunung Salak dan PLTP Windu Wayang berkaitan erat atau mencerminkan karakteristik fluida panas bumi. Secara umum, karakteristik fluida hydrothermal ini sebenarnya memang tidak aman untuk dikonsumsi sebagai air minum. Namun demikian, radius aman untuk hal tersebut belum dapat disampaikan dari hasil penelitian tsb. Perlu diketahui bahwa lokasi PLTP Gunung