91 Prosiding Seminar Nasional Hardiknas Upaya Perupa dalam Menyikapi Pandemi Covid 19 Ariesa Pandanwangi Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan desain, Universitas Kristen Maranatha Bandung Pos-el: ariesa.pandanwangi@maranatha.edu A. Pendahuluan Pandemi covid 19 yang saat ini sedang mewabah di seluruh dunia sudah berlangsung dua bulan, seluruh lini dari jajaran pemerintah hingga swasta meminta semua pekerjaan atau urusan dikerjakan dari rumah (work from home). Ungkapan stay at home pun mewabah di jejaring sosial, media masa, dan juga layar kaca, menjadi jargon setiap orang, sekaligus untuk saling mengingatkan untuk memutuskan rantai penyebaran C19 ini. Pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan tentang pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Hasilnya ada warga yang menyadari bahwa dunia sudah betul-betul terserang pandemi C19, sehingga betul betul menjalankan wfh. Kehidupan di jalan betul betul sepi, seolah berhenti, semua kehidupan yang melibatkan banyak orang untuk ditunda. Korban akibat wabah covid-19 (Purwanto, Agus. Et all. 2020) dalam dunia pendidikan dari tingkat Sekolah dasar hingga Perguruan tinggi. Semua terkena peraturan untuk belajar dari rumah. Tatap muka ditiadakan, guna memutus rantai penyebaran C19. Hal ini menimbulkan kecemasan bagi sebagian besar masyarakat. Dari hasil litbang kompas dengan 1659 responden yang dilakukan secara daring, warga memiliki kegelisahan hingga 53,6 %. Kegelisahan ini muncul karena adanya ketidakpastian kapan ini akan berakhir. Munculnya rasa cemas ini wajar karena masyarakat pun belum tahu kapan pandemic ini berakhir (Panolih, Krishna P. 2020). Untuk mengurangi rasa cemas dan gelisah banyak cara dilakukan oleh warga dalam merespon Corona ini. Salah satunya adalah para pelaku seni yang berkegiatan dalam pameran ataupun artist talk, membuat pameran dengan caranya tersendiri, yaitu salah satunya melalui ruang virtual. Seniman, akademisi, komunitas, galeri seni menyelenggarakan ruang virtual yang dapat diakses melalui media sosial seperti website, instagram (IG) ataupun facebook (FB). Dari New York Times sebuah media terkemuka dengan pengunjung terbanyak meyampaikan bahwa Galeri Seni merespon wabah virus dengan ruang pandang online ditayangkan pada laman New York Times. Permasalahan yang diangkat dalam kasus ini adalah bagaimana perupa merespon pandemic Covid 19? Permasalahan ini dianggap penting, karena semua kegiatan yang melibatkan jumlah orang dalam skala besar diundur. Demikian pula kegiatan terkait dengan seni seperti pameran dan art fair di Indonesia terpaksa harus diundur akibat COVID-19. Pameran yang sedang berlangsungpun menutup galerinya mengikuti anjuran dari pemerintah. Jadwal yang sudah disusun satu tahun sebelumnya juga diundur, dengan jadwal yang tidak pasti. Hal ini membuat banyak pihak mulai dari seniman,perajin, artisan, pekerja studio seni, galeri, ruang seni, hingga para organizer, berpikir keras mencari peluang kreatif, agar tetap dapat berkarya dari dalam rumah. para artisan, pekerja studio seniman, galeri, jasa ekspedisi, hingga para organizer. Dari data yang diperoleh (Aurelia, Joan. 2020) ada ratusan pameran atau pertunjukan seni yang terpaksa tertunda. Jumlah kegiatan seni yang batal dari Januari sampai awal April lalu setidaknya mencapai 135--14 produksi film, 69 konser, 14 pameran seni rupa, delapan pertunjukan tari, 29 pementasan teater, pantomim, wayang, boneka, dan dongeng yang dibatalkan dan ditunda. Antara mencatat penundaan tersebut--dan pandemi secara keseluruhan--mengakibatkan