Jurnal Kimia Mulawarman Volume 14 Nomor 2 Mei 2017 P-ISSN 1693-5616 Kimia FMIPA Unmul E-ISSN 2476-9258 Kimia FMIPA Unmul 77 PEMBUATAN BIOETANOL DARI BIJI JEWAWUT (Setaria italica) DENGAN PROSES HIDROLISIS ENZIMATIS DAN FERMENTASI OLEH Saccharomyces cerevisiae BIOETHANOL PRODUCTION FROM JEWAWUT SEED (Setaria italica) THROUGH ENZYMATIC HYDROLYSIS PROCESS AND FERMENTATION BY Saccharomyces cerevisiae I Wayan Arief Pradana Putra * , Rudi Kartika danAman S. Panggabean Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mulawarman * Corresponding Author : iwayanarief@gmail.com Submit : 01 Maret 2017 Accepted : 02 Mei 2017 ABSTRACT Bioethanol production as a biofuels successor fossil fuels from jewawut seed (Setaria italica) through enzymatic hydrolysis process and fermentation use Saccharomyces cerevisiae has been done. This research aimed to determine levels of bioethanol production by various concentration of nutrients added and variation time of fermentation. Hydrolysis process by enzymatic through a liquefaction phase with -amylase and saccharification phase with gluco-amylase. Fermentation process by Spirulina sp. as a sources of nutrients. The result of hydrolysis was fermented by Spirulina sp. added with various at 0,5%; 1,05 and 1,5% (w/v), and then with variation time of fermentation at 5, 7 and 9 days. The highest concentration of bioethanol obtained are in addition of Spirulina sp. at 1,0% (w/v) for 7 days. The result of concentration obtained from density method was 88% and from gas chromatography method was 93,096%. Keywords: bioethanol, jewawut seed (Setaria italica), Spirulina sp., fermentation. PENDAHULUAN Bahan bakar minyak yang digunakan hingga saat ini dari bahan bakar fosil dan merupakan bahan bakar ini tidak dapat diperbaharui. Akibatnya, timbul permasalahan yang berupa krisis energi. Sehingga perlu upaya yang serius, salah satunya adalah dengan membuat sumber energi yang berbahan dasar dari tumbuhan karena bahan bakar nabati dapat terus diperbarui. Salah satu yang termasuk jenis bahan bakar minyak dari nabati yaitu bioetanol. Senyawa etanol dapat dijadikan sebagai bahan bakar karena memiliki densitas energi dan angka oktan dari etanol pun tinggi sehingga dapat meningkatkan efisiensi [1]. Hasil pembakaran dari etanol adalah gas karbon dioksida (CO2) yang dapat digunakan kembali oleh tumbuhan dalam proses fotosintesis. Etil alkohol atau yang biasa disebut dengan etanol merupakan salah satu jenis alkohol yang sering digunakan sehari-hari. Penggunaannya dapat diaplikasikan dalam bidang industri dan bidang farmasi. Selain itu etanol juga dapat dijadikan sebagai bahan bakar kendaraan. Senyawa etanol yang diproduksi dari hasil fermentasi monosakarida yaitu glukosa (gula) menjadi etanol dengan menggunakan ragi/yeast disebut bioetanol. Kemudian proses pemisahan bioetanol selanjutnya dengan destilasi [2]. Kadar bioetanol yang didapat mencapai 95% yang mana disebut dengan keadaan azeotrop. Jika ingin meningkatkan kadar tersebut dibutuhkan pemurnian lanjut yang dapat memisahkan campuran azeotrop antara bioetanol dengan air [3]. Bioetanol sebagai pengganti bahan bakar minyak memiliki beberapa kelebihan, diantaranya ialah pada mesin terjadi pengapian dini dan mencegah ketukan pada silinder karena memiliki angka oktan yang tinggi, dapat mengurangi emisi gas CO dan hidrokarbon lainnya dikarenakan kadar oksigen yang cukup tinggi. Bioetanol jika dicampur dengan bahan bakar yang umum digunakan dapat menekan energi pembakaran agar lebih rendah dan mengurangi waktu pembakaran, dan secara kimia bioetanol dapat larut dalam bensin [4]. Millet merupakan bahan baku penghasil bioetanol yang cukup baik digunakan. Millet memiliki 3 jenis yaitu proso millet (Panicum miliaceum), pearl millet (Pennisetum glaucum)