Agrokreatif Maret 2024, Vol 10 (1): 5158 Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat ISSN 2460-8572, EISSN 2461-095X doi: https://doi.org/10.29244/agrokreatif.10.1.51-58 51 Sosialisasi Budidaya Padi Organik Dataran Tinggi di Kabupaten Tasikmalaya (Socialization of Upland Organic Rice Cultivation in Tasikmalaya Regency) Yayat Hidayat * , Wahyu Purwakusuma, Desi Nadalia Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680. *Penulis Korespondensi: yahida@apps.ipb.ac.id Diterima Maret 2023/Disetujui Februari 2024 ABSTRAK Pengembangan padi organik sudah lama digaungkan di Indonesia sebagai sistem pertanian berkelanjutan untuk menghasilkan pangan yang sehat dan ramah lingkungan. Rendahnya produktivitas padi organik dibandingkan padi konvensional, pemasaran padi organik yang kurang kompetitif, dan terbatasnya ketersediaan pupuk organik di tingkat petani merupakan penyebab utama rendahnya adopsi dan pengembangan padi organik oleh petani di kawasan pengembangan padi organik dataran tinggi di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya. Sosialisasi teknik budidaya padi organik melalui sekolah lapang pupuk organik dan demplot kultur teknis padi organik merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan adopsi padi organik oleh petani. Sekolah lapang difokuskan untuk membuat formulasi pupuk organik padat dan pupuk organik cair (POC) vegetatif dan generatif berkualitas baik, sedangkan demplot budidaya padi organik ditujukan untuk menentukan dosis pupuk organik dalam mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi organik secara optimal. Formulasi pupuk organik padat menghasilkan pupuk organik berkualitas baik dengan pH 8,54‒8,71, kadar C-organik sebesar 27,87‒28,63%, rasio C/N 18,96‒21,60, dan kandungan unsur hara makro (N+P2O5+K2O) sebesar 4,67‒5,13%. Formulasi POC vegetatif dan generatif belum menghasilkan POC berkualitas baik terutama pH yang rendah (pH <4) dan kandungan unsur hara makro yang rendah (N+P2O5+K2O) sekitar 0,49‒2,16%. Pertumbuhan padi organik dengan dosis 3 ton/ha (padi organik I) dan 6 ton/ha (padi organik II) lebih lambat dibandingkan padi konvensional (pupuk kimia). Pertumbuhan padi organik III (dosis 9 ton/ha) lebih baik dibandingkan padi konvensional baik jumlah anakan maupun tinggi tanaman. Kata kunci: padi konvensional, pupuk organik cair, pupuk organik padat, sekolah lapang ABSTRACT The development of organic rice has long been echoed in Indonesia as a sustainable agriculture system to produce healthy food and be environmentally friendly. The lower productivity of organic rice compared to conventional rice, less competitive marketing of organic rice, and limited availability of organic fertilizers in the field are the main reasons for the low adoption and development of organic rice by farmers, such as in the upland organic rice development area in Cipatujah, Tasikmalaya Regency. Socialization of organic rice cultivation techniques through organic fertilizer field schools and organic rice technical culture demonstration plots are efforts to increase farmers' adoption of organic rice. The field school is focused on making good quality organic fertilizer formulations in solid and liquid forms. In contrast, the organic rice cultivation demonstration plot aims to determine the dose of organic fertilizer to support optimal growth and productivity of organic rice plants. The solid organic fertilizer formulation produces good quality organic fertilizer with a pH of 8,54-8,71, C-organic content of 27,87-28,63%, C/N ratio of 18,96 – 21,60, and macronutrient contents (N+P2O5+K2O) of 4,67 – 5,13%. Liquid organic fertilizer (LOF) formulations have not produced excellent quality LOF, primarily related to the low pH (pH <4) and low macronutrient contents (N+P2O5+K2O) of 0,49-2,16%. The growth of organic rice plants with a dose of 3 tons/ha (organic rice I) and 6 tons/ha (organic rice II) is slower than conventional rice (chemical fertilizer). At the same time, plant growth of organic rice III (dose 9 tons/ha) was better than conventional rice in terms of number of tillers and plant height. Keywords: conventional rice, field school, liquid organic fertilizer, solid organic fertilizer