JURNAL KLOROFIL Perbandingan Jaringan Pembuluh pada Batang Kangkung Darat (Ipomoea reptans) dan Kangkung Air (Ipomoea aquatica) Muhammad Nabil 1 , Gita Amalia Shabila F 2 , Muhammad Alwi Putrasyefik 3 , Rifni Salma I 4, Nabilla Narassati 5 1 Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Pendidikan Indonesia *Corresponding author: muhammadnabil@upi.edu ABSTRACT Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik anatomi batang kangkung darat (Ipomoea reptans) dan kangkung air (Ipomoea aquatica) guna mengungkap adaptasi struktural keduanya terhadap lingkungan yang berbeda. Kedua jenis kangkung tersebut menunjukkan tipe ikatan pembuluh kolateral terbuka dan memiliki lapisan anatomi serupa, seperti epidermis, korteks, pembuluh vaskuler, dan parenkim empulur, yang memungkinkan keduanya melakukan fotosintesis. Namun, perbedaan adaptasi mencolok terlihat pada keberadaan sel aerenkim di batang kangkung air, yang berfungsi untuk menyimpan udara dan mendukung pertukaran gas di lingkungan tergenang. Sebaliknya, kangkung darat tidak memiliki sel-sel aerenkim, mencerminkan adaptasi terhadap kondisi tanah yang lebih kering. Hasil penelitian ini memberikan wawasan mendalam tentang mekanisme adaptasi tumbuhan terhadap kondisi lingkungan yang beragam, yang dapat dimanfaatkan dalam bidang biologi, pertanian, dan ekologi untuk mengoptimalkan pemanfaatan kedua jenis kangkung. Keywords: Kangkung darat, kangkung air, Ipomoea reptans, Ipomoea aquatica, anatomi tumbuhan, adaptasi lingkungan, ikatan pembuluh kolateral, sel aerenkim, struktur batang, ekologi tumbuhan. PENDAHULUAN Keanekaragaman tumbuhan merupakan hasil evolusi yang kompleks, dengan berbagai adaptasi morfologis dan anatomis untuk bertahan dalam kondisi lingkungan yang berbeda. Salah satu contoh menarik adalah perbedaan adaptasi anatomi pada kangkung darat (Ipomoea reptans) dan kangkung air (Ipomoea aquatica). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan struktur anatomi batang kedua jenis kangkung tersebut, dengan fokus pada ikatan pembuluh. Analisis mikroskopis akan dilakukan untuk memeriksa lapisan anatomi seperti epidermis, korteks, pembuluh vaskuler, dan parenkim empulur, serta sel-sel aerenkim yang khusus terdapat pada kangkung air. Berdasarkan teori adaptasi tumbuhan terhadap lingkungan (Sujadmiko et al., 2012; Fayçal Boughalleb et al., 2014; Mahajan et al., 2020), kangkung air mengembangkan aerenkim untuk pertukaran gas di lingkungan berair (Raven, Evert, & Eichhorn, 2005), sementara kangkung darat memiliki xilem berdinding tebal untuk mengurangi kehilangan air di lingkungan kering (Esau, 1977). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan tentang mekanisme adaptasi tumbuhan dan bermanfaat dalam bidang biologi, pertanian, dan ekologi, serta menjadi dasar bagi penelitian lanjutan tentang adaptasi tumbuhan di berbagai kondisi lingkungan. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan karakteristik anatomi batang kangkung darat (Ipomoea reptans) dan kangkung air (Ipomoea aquatica) guna mengungkap adaptasi struktural keduanya terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif komparatif untuk mengidentifikasi dan membandingkan struktur anatomi batang kedua jenis kangkung tersebut. Populasi penelitian ini adalah tanaman kangkung yang tumbuh di wilayah tropis, dengan sampel berupa kangkung darat dan kangkung air yang diambil dari lingkungan yang berbeda: kangkung darat dari lahan kering dan kangkung air dari daerah berair. 1