1 Paper ECF “Philosophy of Mind” Fakultas Filsafat Universitas Parahyangan Bandung, 13 Oktober 2017 DUALITAS IDEALISME DAN MATERIALISME Oleh Dr. Fitzerald K. Sitorus 1 I. Pengantar Idealisme adalah pandangan filosofis yang menempatkan ide atau pikiran sebagai unsur konstitutif dalam keseluruhan realitas. Idealisme berpandangan bahwa keseluruhan realitas ini berasal atau ditentukan oleh ide atau pikiran (Ing: Mind, Jer: Geist). Filsafat idealisme, dengan demikian, beroposisi terhadap materialisme, yakni pandangan filosofis yang menempatkan materi sebagai unsur konstitutif dalam keseluruhan realitas. Materialisme beranggapan bahwa pikiran atau ide, bahkan keseluruhan realitas, berasal dari atau dapat direduksi kepada hal-hal yang bersifat material serta proses-proses yang terjadi pada materi tersebut. Oposisi tersebut membuat bahwa kedua paham yang bertolak belakang ini dapat dipahami dengan baik bila dibicarakan bersama-sama. Dalam tulisan ini, 2 saya akan lebih dulu membicarakan idealisme, baru kemudian materialisme. Tentu di sini saya hanya akan berbicara mengenai idealisme dan materialisme secara umum, dan tidak akan memasuki segala variasi dalam kedua paham ini. Secara etimologis, istilah idealisme berasal dari kata Yunani, yakni idea, yang secara sederhana berarti konsep, pola (pattern) atau gambar asali (Jerman: Urbild). Secara harafiah, dalam bahasa Yunani, kata idea berarti penglihatan atau pandangan atas sesuatu. Namun, pandangan yang dimaksud di sini tidak bersifat fisik empiris, melainkan intelektual. Kata idea berarti bagaimana kita „melihat“ sesuatu dengan dan dalam pikiran kita. Dari kata ide sebagaimana dipahami dalam bahasa Yunani inilah kemudian kita mengetahui apa yang dimaksud kalau kita mengatakan ideal. Ideal berarti sesuai dengan gambaran asali atau konsep kita mengenai sesuatu. Yang ideal itu tentu tidak terdapat dalam kenyataan empiris karena kenyataan empiris itu tidak pernah ideal, paling-paling hanya mendekati yang ideal, artinya: yang sesuai dengan die (mengenai sesuatu). Dosen yang ideal tidak kita temukan dalam dunia kehidupan empiris kita. Dosen yang ideal itu hanya terdapat dalam gambaran asali, atau ide, kita mengenai dosen. Kalau dosen itu sedemikian baik, mendekati gambaran kita mengenai dosen, maka kita mengatakan bahwa dosen itu ideal. Yang ideal itu hanya terdapat pada dunia ide. Dan ide itu selalu ideal. Yang dimaksud di sini adalah bahwa hal yang kita sebut ideal itu sesuai atau mendekati gambaran asali atau ide kita mengenainya. Plato (Athena, 427 SM – 347 SM) adalah filsuf pertama yang menempatkan ide sebagai titik tertinggi dalam filsafatnya. Dalam pandangan Plato, ide itulah yang sungguh-sungguh nyata. Ide itulah kenyataan sejati, yang sungguh-sungguh benar, sementara kenyataan empiris ini hanyalah tiruan atas dunia ide tersebut, dan karena hanya berupa tiruan, maka dunia empiris ini tidak sejati dan tidak benar. Mengapa filsuf ini menempatkan ide dalam posisi lebih utama dibandingkan dengan kenyataan empiris? Jawabannya adalah, karena menurut Plato, dunia empiris ini tidak tetap, berubah-ubah, fana dan sering menipu, sementara dunia ide itu tetap, tidak berubah, dan karena itu merupakan dunia yang sungguh-sungguh benar. Dalam hubungannya dengan dunia empiris, maka dunia ide itu berfungsi sebagai adalah acuan, paradigma bahkan tujuan bagi dunia empiris. Untuk mengetahui bagaimana seorang dosen seharusnya menjalankan tugasnya (agar ia ideal, atau agar sesuai dengan ide mengenai dosen), itu bisa kita ketahui kalau kita mengacu kepada ide mengenai dosen. Ide itu adalah acuan atau paradigma. Ide itu adalah juga tujuan dan orientasi segala yang terdapat dalam dunia empiris. 1 Dosen filsafat Fakultas Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang. Email: fiksitorus@yahoo.com. 2 Tulisan ini masih berupa draft; argumentasi dan literatur yang dirujuk masih harus dilengkapi. Karena itu, tulisan ini belum boleh dikutip.