JURNAL TEKNIK ITS Vol. 12, No. 2, (2023) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B89 AbstrakBiodiesel dapat menjadi alternatif untuk mengatasi permasalahan krisis energi dunia karena sifatnya yang renewable resources. Salah satu bahan yang dapat digunakan dalam produksi biodiesel adalah biji nyamplung. Pabrik biodiesel dari biji nyamplung ini direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2026 dengan mengacu pada pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Dengan analogi untuk memenuhi 2,94% kebutuhan biodiesel nasional sehingga kapasitas produksi pabrik biodiesel menjadi 1200.000 ton/tahun. Biodiesel dari biji nyamplung diproduksi melalui tahap proses persiapan bahan baku, esterifikasi, transesterifikasi, pemurnian biodiesel, pemurnian gliserol, dan recovery metanol. Untuk dapat mendirikan pabrik biodiesel dari biji nyamplung ini, dibutuhkan total modal investasi sebesar Rp923.438.103.243,00. Estimasi umur pabrik ini adalah 20 tahun dengan Internal Rate of Return sebesar 17,551%, Pay Out Time (POT) 4 tahun 2 bulan, dan Break Even Point (BEP) sebesar 22,4%. Kata KunciBiji Nyamplung, Biodiesel, Esterifikasi, Transesterifikasi. I. PENDAHULUAN NERGI memiliki andil yang sangat besar dan sangat diperlukan dalam menjalankan aktivitas perekonomian Indonesia, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun untuk aktivitas produksi berbagai sektor perekonomian. Krisis energi dunia yang terjadi pada satu dekade terakhir memberikan dampak yang signifikan pada meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM). Sebagai sumber daya alam, energi harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran masyarakat dan pengelolaannya harus mengacu pada azas pembangunan berkelanjutan. Jika dilihat dari aspek ketersediaan, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya energi, baik energi yang bersifat unrenewable resources maupun renewable resources. Akan tetapi, eksplorasi sumber daya energi lebih banyak difokuskan pada energi fosil yang bersifat unrenewable resources, sedangkan energi yang bersifat renewable relatif belum banyak dimanfaatkan. Kondisi ini menyebabkan ketersediaan energi fosil, khususnya minyak mentah, semakin langka yang menyebabkan Indonesia saat ini yang mana cepat atau lambat pasti kan habis ketersediaannya. Kelangkaan bahan bakar minyak saat ini yang disebabkan oleh semakin menipisnya cadangan energi fosil, sementara konsumsi energi terus mengalami peningkatan yang akan menjadi ancaman terhadap perkembangan perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, berbagai upaya perlu dilakukan untuk mendorong pemanfaatan penggunaan energi yang efisien diiringi dengan pencarian sumber-sumber energi fosil baru secara intensif dan mengembangkan energi alternatif yang bersifat renewable resources. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan pencarian sumber bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak. Bahan bakar alternatif tersebut adalah Bahan Bakar Nabati (BBN). Bahan bakar nabati adalah bahan bakar yang diperoleh dari tanaman yang menghasilkan minyak sebagai bahan bakar. Biodiesel dapat dijadikan bahan bakar alternatif karena diproduksi dari sumber daya hayati terbarukan seperti minyak nabati atau lemak hewani. Biodiesel bukan hanya energi terbarukan dan ramah lingkungan, namun juga energi yang dapat terdegradasi dalam lingkungan. Biodiesel dari minyak nabati pada umumnya mempunyai karakteristik yang mendekati bahan bakar yang berasal dari minyak bumi. Selain itu, biodiesel dari minyak nabati bersifat dapat diperbarui sehingga ketersediaannya lebih terjamin dan produksinya dapat terus ditingkatkan mengingat supply biodiesel tiap tahunnya juga semakin ditingkatkan guna mengatasi permasalahan energi. Biodiesel dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti diesel atau solar. Biodiesel dapat digunakan pada mesin diesel biasa dengan sedikit atau tanpa penyesuaian sesuai dengan kondisi tertentu. Penyesuaian dibutuhkan apabila penyimpanan biodiesel terbuat dari bahan seperti seal, gasket, atau perekat dari karet alam atau karet nitril Bahan baku biodiesel harus memenuhi persyaratan untuk Pra Desain Pabrik Biodiesel dari Biji Nyamplung dengan Proses Esterifikasi dan Transesterifikasi Ainiya Nanda Aurunnisa, Aulia Rahma Nabila, dan Mahfud Departemen Teknik Kimia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) e-mail: mahfud@chem-eng.its.ac.id E Tabel 1. Perbandingan Proses Pembuatan Biodiesel Parameter Esterifikasi Transesterifikasi Pirolisis Metanol Superkritis Suhu Tidak memerlukan suhu yang tinggi yaitu sebesar 60℃ apabila menggunakan katalis basa pada reaksi transesterifikasi Memerlukan suhu yang tinggi yaitu sekitar 250℃— 350℃ Memerlukan suhu yang tinggi yaitu di atas 350℃ karena tidak menggunaka n katalis Biaya produksi Sedang bergantung pada jenis katalis yang digunakan. Mahal karena konsumsi energi yang besar Mahal karena konsumsi energi yang besar. Mekanism e reaksi Mekanisme reaksi cukup rumit karena harus dijaga pada suhu tertentu agar optimal. Mekanisme reaksi cukup mudah dibandingkan yang lain Mekanisme reaksi rumit karena dilakukan pada suhu tinggi. Dampak terhadap lingkungan Menggunakan banyak air untuk proses pencucian apabila menggunakan katalis. Selain itu, reaksi bersifat korosif apabila menggunakan katalis asam Tidak ramah lingkungan karena konsumsi energi yang besar Ekologis karena tidak menggunaka n katalis