Kreativitas Teater Rumah Mata di Bentara Kota Medan; Studi Kreativitas dalam Perspektif Czikszenmihalyi 121 Kreativitas Teater Rumah Mata di Bentara Kota Medan; Studi Kreativitas dalam Perspektif Czikszenmihalyi Ilham Rifandi 1 , Lusi Handayani 2 1 Program Studi Seni Pertunjukan Universitas Negeri Medan 2 Prodi Sendratasik, FKIP, Universitas Jambi E-mail: ilhamrifandi@unimed.ac.id, handayani19@unja.ac.id ARTICLE INFORMATION ABSTRACT Submitted: 2022-10-25 Review: 2022-11-15 Accepted: 2022-11-20 Published: 2022-11-24 Tulisan ini merupakan sebuah studi kreativitas Teater Rumah Mata (TRM), sebuah kelompok teater di Kota Medan yang masih berupaya eksis di tengah stagnasi kelompok-kelompok teater di Kota Medan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk merekam perjalanan kreatif TRM dalam perspektif teori kreativitas Mihaly Csikszenmihalyi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk menjelaskan kondisi yang terdapat di lapangan. Hasil dari penelitian ini adalah perjalanan kreatif TRM yang sering terbentur karena kurangnya dukungan sarana dan prasarana, sikap dari penghuni domainnya yang kerap mengalami fluktuasi sehingga memengaruhi proses kreatif dan individu- individu yang bergabung dalam kelompok TRM. Dalam menghadapi permasalahan tersebut TRM melakukan penampilan di tengah keramaian, di taman-taman kota, dan menggagas strategi saweran, raon teater dan donasi rumah mata agar TRM tetap hidup. KEYWORDS/KATA KUNCI Kreativitas; Mihaly Csikszenmihaly; Teater Rumah Mata. CORRESPONDENCE ilhamrifandi@unimed.ac.id PENDAHULUAN Pada tahun 1980-an Kota Medan disebut-sebut sebagai kantong pelaku teater di Indonesia. Ojax Manalu sebagai salah satu aktivis kebudayaan di Medan menyebut bahwa Medan menjadi markas dari kelompok teaternya Sori Siregar, Burhan Piliang dan Porman Manalu. Sebagai salah satu kota dengan komposisi masyarakat dan budaya yang heterogen, Medan tumbuh menjadi kota dengan perkembangan budaya yang sangat dinamis. Banyak seniman yang terlahir dari kondisi tersebut termasuk seniman teater yang pernah mengantarkan Medan menjadi kota teater ketiga setelah Jakarta dan Surabaya. Bahrum Rangkuti, Surapati dan Menak Jingga menjadi generasi awal perkembangan teater di Medan diikuti generasi selanjutnya yang memberikan gambaran Medan menjadi lahan yang subur bagi berkembangnya teater di masa lalu. Namun dalam beberapa tahun terakhir, semakin nyata kondisi lahan kreatifitas teater di Kota Medan semakin menyempit. Dahana (membagi lahan teater dalam dua jenis yaitu lahan fisik dan non fisik. Segala hal material yang dibutuhkan bagi kerja kreatif seniman