Nanda Aulia, Jurnal Teknik Mesin Unsyiah, volume 7, nomor 1 (Juni 2019) ISSN 2301-8224 21 Penggunaan Accelerometer dan Strain Gauge Sebagai Sensor Untuk Mendeteksi Kerusakan Pahat Potong Nanda Aulia, Muhammad Rizal, Amir Zaki Mubarak Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Universitas Syiah Kuala Jl. Tgk. Syech Abdurrauf No. 7 Darussalam – Banda Aceh 23111, Indonesia e-mail : auliananda.tpp@gmail.com Abstract The damage of cutting effect the product a lot, thus reducing the quality and dimensional change of the product. This research aims to monitor damage of cutting tool throught the accelerometer and strain gauge sensors on the process of turning Rod hydraulic cylinder SAE 1045 using cutting carbide coated. The machining process is carried out by the variation of cutting parameters, depth of cut 0,5 and 1,0, feed rate o,5 and 0,7 mm/min, and constant cutting speed of 1300 rpm. This experiment is conducted on three cutting tool condition they are new, medium wearing (0,15 mm) and critical wearing (0,3 mm). The censors used are accelerometer and strain gauge which are placed in the holder. The result show that kurtosis, RMS and standard deviation parameters are influenced by the tooling condition. Have the relation toward the wearing change of tooling, this case is showed by the existence of progress from the new, medium and critical tooling test. As for amplitude strain gauge signal also showed a significant change when there is damage to the wearing tools. This showed that the bigger wearing happening the higher signal out going. Keyword : Turning Process, Wearing Cutting Tool, Vibration, Strain Gauge. 1. Pendahuluan Seperti yang kita ketahui masalah yang sering timbul pada industri manufakturing adalah kapan waktunya pahat potong harus diganti dengan yang baru karena pahat telah mengalami keausan, terutama saat terjadinya proses permesinan berlangsung. Pahat yang memiliki tingkat keausan tinggi apabila tidak segera diganti akan menghasilkan perubahan dimensi pada produk dan pruduk akan mengalami kekasaran permukaan yang tinggi. Apabila pahat dengan keausan pahat yang besar masih digunakan, maka pahat potong tersebut akan patah dengan tiba-tiba, dan akan membahayakan operator. Biasanya operator dapat mengetahui bahwa pahat telah mengalami tingkat keausan yang tinggi dari getaran yang ditimbulkan pada saat proses permesinan berlangsung atau dari suara kebisingan yang timbul karena gesekan pahat yang sudah aus dengan spesimen yang ingin dibubut. Namun biasanya pahat potong yang telah mengalami tingkat keausan tertentu tidak diketahui oleh operator tiba- tiba patah dengan patahan yang terlempar ke sembarang arah dan bisa mengenai operator. Patahan pahat potong yang terlempar ke sembarang arah ini tentu sangat membahayakan operator karena apabila pahat potong yang patah terkena operator itu bisa terjadi kecacatan bagi operator itu sendiri. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk menggantikan mata pahat yang telah aus, yang dapat menurunkan kualitas proses permesinan. Untuk mencegah hal seperti itu maka perlu dilakukan proses monitoring terhadap kondisi mata pahat untuk mengetahui kondisi mata pahat dan juga mengetahui keausan mata pahat seberapa parah yang terjadi pada saat proses permesinan sedang berlangsung[1]. Kondisi alat yang rusak menghasilkan permukaan yang kasar dari benda kerja dan dengan demikian menyebabkan getaran pada sistem. Itu kejadian lain dalam permesinan dan variasi dalam kondisi pemotongan juga menghasilkan getaran pada system. Fenomena getaran dalam pemotongan logam menunjukkan kelainan yang terjadi pengukuran. Selama pemotongan, dan masalah alat mesin itu sendiri. Akibat langsung dari ketidakteraturan dalam permesinan menghasilkan getaran, yang pada akhirnya meningkatkan keausan alat dan kekasaran permukaan benda kerja[2]. Penelitian untuk memonitoring kerusakan pahat potong pada saat proses telah banyak dilakukan, seperti dengan metode mengkur gaya potong secara static dan dinamik, mengukur arus pada motor spindel ( spindle motor current), monitoring kondisi pahat dengan getaran, acoustic emission, mengukur temperature pahat, pengukuran ultra sonic dan optic, dan mengukur getaran (chatter) yang terjadi[1].