196 ANALISIS PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT LETUSAN GUNUNG BERAPI DENGAN PENGAMATAN TOTAL ELECTRON CONTENT GNSS (STUDI KASUS : GUNUNG AGUNG BALI) Mokhamad Nur Cahyadi 1 , Adhi Dermawan 2 , Buldan Muslim 3 1,2 Departemen Teknik Geomatika FTSLK-ITS, Kampus ITS Sukolilo, Surabaya, 60111 3 Lembaga Antariksa Dan Penerbangan Nasional (LAPAN) e-mail : adhi.dermawan@gmail.com 1 , cahyadi@geodesi.its.ac.id 2 , mbuldan@gmail.com 3 Abstrak Letusan Gunung Agung terjadi terakhir pada Tahun 1963 hingga tahun 1964 dengan letusan yang bersifat eksplosif. Letusan ini memakan korban jiwa sebanyak 1.344 jiwa. Pada tahun 2017,Gunung Agung kembali menunjukkan aktifitasnya hingga awal tahun 2018. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,letusan yang besar terjadi pada 22 November 2017 pukul 01.00 WITA. Letusan gunung tersebut menghasilkan tekanan ke atas yang disertai oleh lava yang tersembur melalui mulut gunung. Dari letusan ini, menghasilkan beberapa perambatan gelombang yakni Acoustic, Gravity, dan Rayleigh. Pada saat gelombang letusan mencapai ionosfer, gangguan tersebut dapat diketahui dari sinyal GPS yang melaluinya. Pada gangguan di ionosfer tersebut dapat diukur dengan menggunakan kombinasi L4 yang biasa disebut linear ionospheric combination sehingga didapat nilai TEC (Total Electron Content) dimana 1 TECU adalah 10 16 el/m 2 . Nilai inilah yang berfungsi untuk menentukan kadar besaran gangguan akibat letusan yang terjadi pada Gunung Agung 2017. Dalam penelitian ini, menggunakan data GNSS (Global Navigation Satellite System) CORS (Continuously Operating Reference Station) untuk mengetahui perubahan nilai TEC sesaat setelah letusan Gunung Agung, data GNSS (CORS diambil dari stasiun yang terletak di sekitar Gunung Agung. Hasil Penelitian ini diketahui satelit GPS nomor 3 dan 23 dapat mendeteksi perubahan TEC (Total Electron Content) setelah terjadi letusan. Fluktuasi TEC (Total Electron Content) terbesar bernilai 1,5 TECU untuk satelit GPS. Kata Kunci— Letusan Gunung Agung, Satelit GPS, TEC PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah gunung berapi aktif yang sangat banyak. Sekitar 30% dari gunung aktif dunia berada di Indonesia. Gunung berapi adalah gunung yang masih aktif dalam mengeluarkan material panas di dalamnya. Ini tentu menjadi ancaman sendiri karena gunung aktif dapat bergejolak sewaktu- waktu (Sinensis 2017). Gunung Agung merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia yang berada di pulau Bali dan mulai menunjukkan aktifitas erupsi pada tanggal 21 November 2017. Gunung Agung terletak pada Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem tepatnya pada posisi 8 20’ 30” Lintang Selatan dan 115 30’ 30“ Bujur Timur. Akibat dari erupsi gunung Agung menyebabkan beberapa hal termasuk perubahan ionosfer. Saat terjadinya erupsi, magma yang berada dalam perut bumi tidak stabil dan akan terjadi tekanan ke atas. Tekanan ini akan membentuk dan merambatkan energi gelombang permukaan maupun dibawah tanah dalam bentuk getaran. Perambatan yang berada pada permukaan bumi dan merambat secara horizontal disebut dengan gelombang Rayleigh (kecepatan 4 km/s). Gelombang rayleigh inilah yang akan mengakibatkan gempa bumi. Pada letusan Gunung Api terdapat dua gelombang yang dominan yang biasa disebut dengan gelombang akustik (kecepatan 1 km/s) dan Gravity (kecepatan 0.3 km/s) . Pada saat gelombang ini mencapai ionosfer maka akan terjadi gangguan ionosfer yang terdeteksi dengan sinyal GNSS yang dikirimkan ke receiver permukan bumi. Gangguan ini direkam dengan frekuensi L4 yang terdiri dari kombinasi L1 (1575,42 MHz) dan L2 (1227,60 MHz). Dengan data dari beberapa satelit yang melintasi di atasnya, gangguan ini terlihat setelah 11 – 16 menit terjadinya gempa dan merambat dengan kecepatan ~0,7 km/detik (Cahyadi dan Heki 2013).