Prosiding Seminar Nasional IV 2018 Peran Biologi dan Pendidikan Biologi dalam Revolusi Industri 4.0 dan Mendukung Pencapaian Sustainability Development Goals (SDG’s) ISBN: 978-602-5699-43-6 246 Pengendalian lalat buah (Bactrocera sp) secara biologi menggunakan attractant dan warna pada tanaman jambu biji (Psidium guajava) Maria Gaudensia Ladja, Iin Hindun, Sukarsono, Rr Eko Susetyarini, Dwi Setyawan Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang Penulis koresponden Iin Hindun Program Studi Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Muhammadiyah Malang Email: iinhindunhindun@yahoo.co.id ABSTRAK Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui daya tarik lalat buah terhadap variasi attractant maupun variasi warna. Penelitian dilakukan di kebun Jambu desa Bulukerto, Bumiaji kota Batu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang teridiri dari 2 faktor yaitu minyak atsiri (Serai A1 dan Kemangi A2) dan warna (merah B1, kuning B2, dan hijau B3) dengan 4 kali ulangan. Hasil penelitian di temukan 1 jenis lalat buah yaitu Bactrocera papaya, dengan total jumlah lalat buah yang terperangkap sebanyak 2.320 ekor. Kombinasi antara minyak atsiri serai dan perangkap warna kuning adalah yang paling banyak menarik lalat buah. Kata kunci: Attractant minyak atsiri warna perangkap lalat buah Copyright © 2018 Universitas Muhammadiyah Malang PENDAHULUAN Jambu biji merupakan salah satu buah yang banyak diminati, yang dimana jambu biji sering dimanfaatkan sebagai olahan produk pangan dan minuman. Oleh karena itu permintaan jambu di pasaran meningkat. Jambu biji menjadi salah satu buah yang sangat prospektif (Cahyono, 2010). Produksi jambu biji mengalami ketikdakstabilan setiap tahunnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia produksi jambu biji tahun 2010 adalah 204.551 ton, mengalami kenaikan di tahun 2011 yaitu 211.836, menurun di tahun 2012 yaitu 208.151 ton, mengalami penurunan lagi di tahun 2013 yaitu 181.632 ton, dan di tahun 2014 sedikit mengalami kenaikan yaitu 187.406, kemudian naik di tahun 2015 yaitu 195.751 ton dan di tahun 2016 yaitu 206.985, ketidakstabilan ini dikarenakan turunnya kualitas jambu biji akibat serangan lalat buah. Lalat buah adalah hama yang sangat merugikan bagi para petani Jambu biji. Untuk mengatasinya banyak cara yang dilakukan, dintaranya pembungkusan buah, pengasapan, dan penyemprotan pestisida.