Periodic , Vol 10 No 2 (2021) Chemistry Journal of Universitas Negeri Padang e-ISSN : 2339-1197 Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Page 51 Universitas Negeri Padang (UNP) Jl. Prof. Hamka, Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Indonesia, 25131 http://ejournal.unp.ac.id/index.php/kimia Pengaruh pH dan Konsentrasi Terhadap Penyerapan Zat Warna Rhodamin B Menggunakan Karbon Aktif Kulit Pisang Kepok (Musa balbisiana Colla) Muhamad Daviya Nur Fauzi, Edi Nasra*, Ali Amran, Miftahul Khair Jurusan Kimia, Universitas Negeri Padang Jln. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Barat, Padang – Sumatera Barat - Indonesia *edinasra@fmipa.unp.ac.id Abstract Rhodamine B is a textile dye which can cause environmental pollution. Rhodamin B dyes found in waters can cause damage to ecosystems both animals and plants, so a method is needed to overcome the impact of pollution by Rhodamin B waste. One of the most efficient methods is the adsorption method using activated carbon from Kepok banana peels (Musa balbisiana Colla ). The purpose of this study was to determine the optimum conditions for absorption and optimum absorption capacity of Rhodamine B by batch method with variations in pH, concentration, particle size, stirring time and stirring speed. The results showed the absorption capacity at optimum conditions for the absorption of Rhodamine B at pH 4 and concentration of 150 mg / L. . Keywords — Rhodamine B, Adsorption, Activated carbon, Kepok banana peel (Musa balbisiana Colla), batch method I. PENDAHULUAN Indonesia adalah negara berkembang dengan jumlah penduduk yang meningkat setiap tahunnya. Seiring dengan tingginya jumlah penduduk, kebutuhan akan produk industri seperti industri kosmetik [1] , industri tekstil [2] , industri farmasi juga terus meningkat. Selain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, perkembangan industri yang secara besar mengakibatkan pencemaran lingkunga. Pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri menjadi permasalahan bagi kehidupan masyarakat, seperti pencemaran air, udara dan tanah. Pencemaran air oleh limbah kimia seperti Logam berat, zat warna, dan senyawa organik sangat berbahaya bagi makluk hidup [3] . Sehingga hal ini diperlukan upaya untuk mengurangi pencemaran yang ada, salah satunya limbah zat warna Rhodamin B [4] . Rhodamin B merupakan senyawa kimia yang dapat memberikan warna pada permukaan makanan ataupun pakaian. Rhodamin B berbentuk serbuk kristal, tidak memiliki bau, berwarna kehijauan, namun pada konsentrasi tinggi dapat berwarna merah keunguan serta merah terang dan bersifat toksik bagi makluk hidup. Dalam jangka panjang, mengkonsumsi Rhodamin-B dapat mengakibatkan kanker, gagal ginjal, serta kerusakan sel lainnya [5] . Rhodamin B memiliki struktur kimia yang kompleks sehingga sangat stabil terhadap oksidasi, cahaya, dan sangat sulit terurai. Rhodamin B sangat larut didalam air, alkohol dan eter. Namun sukar larut dalam larutan HCl dan NaOH, sehingga diperlukan metoda yang selektif untuk mengolah limbah air yang terkontaminasi oleh zat warna Rhodamin B. Beberapa metode dalam menyerap zat warna rhodamine B sudah di lakukan oleh peneliti, seperti koagulasi, oksidasi lanjut [6] , filtrasi, degradsasi elektrokimia [7] , dan masih banyak lagi. Namun demikian, metoda yang sudah di gunakan masih tergolong kurang efisien, memerlukan tenaga ahli dan biaya yang cukup tinggi. Salah satu metoda alternatif yang terus berkembang pada saat ini dalam proses pengolahan limbah zat warna adalah metoda adsorpsi [8] . Metode ini dipilih karena tidak memiliki efek samping, aman, ekonomis, sederhana, selektif, efesien, serta mudah dalam penggunaannya. Karbon aktif yang digunakan sebagai adsorben adalah suatu metode yang sering di manfaatkan dalam penanggulangan limbah warna. Banyak peneliti melaporkan kelayakan penggunaan biomassa menjadi biosorbent. Karbon aktif yang tersedia secara komersial masih terbatas dengan harga yang mahal. Hal ini memotivasi peneliti untuk membuat karbon aktif yang murah dari limbah organik. Pembuatan karbon aktif biasanya menggunakan limbah organik seperti kulit lengkeng [9] , sekam padi [10] , kulit telur [11] , kulit udang [12] , kulit pisang [13] dan terus berkembang.