Jurnal Silvikultur Tropika Vol. 07 No. 1, April 2016, Hal 18-23 ISSN: 2086-8227 KARAKTERISASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA PADA RHIZOSFER AREN (Arenga pinnata (Wrmb) Merr.) DARI JAWA BARAT DAN BANTEN Characterization of Arbuscular Mychorrizal Fungus from Sugar Palm (Arenga pinnata (Wurmb) Merr.)West Java and Banten Moh. Ega Elman Miska 1 , Ahmad Junaedi 1 , Ade Wachjar 1 , dan Irdika Mansur 2 1 Departemen Agrronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB 2 Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB ABSTRACT The diversity of AMF has been recorded as much as 250 types which associated with certain plants and inhabit the areas of tropical, temperate, and even the arctic. This research aims to find out the diversity of Arbuscular Mycorrhizal Fungus under the sugar palm tree stands in different locations. Soil were sampled from the rhizosphere of sugar palm in three subdistricts i.e. Cianjur, Sukabumi, and Lebak. These samples were processed directly by wet sieving and sentrifugation method to separate the AMF spore., These spores were then identified immediately. The results showed there were four genera and 14 morpho types AMF spores, which consists of: seven types of Glomus sp.; five types of Acaulospora sp.; one Scutellospora sp.; and one Gigaspora sp. Key words : AMF, Banten, diversity, sugar palm, West Java. PENDAHULUAN Latar Belakang Studi keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) di hutan alam daerah pegunungan Jawa terutama di Jawa Barat, telah dilaporkan oleh beberapa peneliti, diantaranya: Delvian (2003) mengeksplorasi keanekaragaman FMA dari lahan pantai kawasan hutan lindung Leuwi Sancang Garut, Puspitasari et al. (2010) melaporkan penelitian keanekaragaman FMA dari hutan pantai Ujung Genteng, dan Kramadibrata (2012) mengeskplorasi keanekaragaman FMA dari Taman Nasional Ujung Kulon. Keberadaan FMA dari rhizosfer tumbuhan di alam memiliki peranan penting karena sifatnya bersimbiosis secara mutualistik dengan hampir sekitar 90% jenis tumbuhan terestrial. FMA merupakan komponen mikroorganisme yang berperan aktif membantu tanaman untuk menyerap hara dan air dari lokasi yang tidak terjangkau oleh rambut akar (Smith & Read 1997). Keanekaragaman FMA di dunia tercatat sekitar 250 jenis yang berasosiasi dengan tumbuhan yang tersebar dari daerah tropik sampai subtropik bahkan kutub utara (Schussler & Walker 2010; INVAM 2013). Di daerah tropik secara umum FMA berasosiasi dengan hampir semua tumbuhan, kecuali Dipterocarpaceae, karena kelompok tumbuhan ini berasosiasi dengan FMA ektomikoriza (Bearley 2012). Arenga pinnata merupakan tanaman asli di wilayah kepulauan Indo-Malaya. Penyebaran tanaman aren mulai dari Pulau Sumatra sampai ke Papua. Tanaman aren paling banyak terdapat di wilayah Pulau Jawa (19 757 ha), Sulawesi (16 951 ha), Sumatera (15 802 ha), dan Kalimantan (1 816 ha) (Kementan 2013). Pemanfaatan tanaman aren oleh masyarakat di daerah sentra sangat beragam. Masyarakat Jawa Barat (Cianjur, Banten, dan Garut) memanfaatkan aren sebagai sumber pembuatan gula merah, minuman tradisional (lahang), tepung sagu, dan kolang-kaling. Hasil nira tanaman aren dimanfaatkan sebagai minuman tradisional, diantaranya Sumatra Utara (tuak) dan Sulawesi Utara (saguer) (Mogea et al. 1991). Potensi dari tanaman aren sangat tinggi dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan alternatif energi terbarukan. Salah satu komponen pengembangan produksi yang perlu dikelola dengan baik ke depan dalam bentuk agribisnis tanaman aren, yaitu penyediaan benih bermutu dan pembibitan sebagai bahan tanam (BKPL 2007). Kendala yang dihadapi dalam pengembangan dan budidaya tanaman aren adalah ketersediaan bibit yang bermutu. Penurunan mutu bibit menjadi faktor memperlambat masa pindah tanam ke lapangan. Salah satu faktor yang menyebabkan penurunan mutu bibit adalah cekaman lengas tanah. Cekaman lengas tanah mengakibatkan turunnya kandungan air dalam daun sehingga pertumbuhan bibit terhambat (Fathurrahman 2010). Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu bibit aren, yaitu pemanfaatan FMA. Pemanfaatan isolasi FMA alami dari tanaman lokal akan lebih efektif dibandingkan penggunaan isolat dari luar tempat tumbuh tanaman. Hal ini disebabkan FMA merupakan mikroorganisme yang hidup dengan daya adaptasi terhadap inang dan lingkungan yang spesifik. Perbedaan lokasi dan rhizosfer akan menghasilkan perbedaan