1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergeseran pola hidup masyarakat dari tradisional menjadi praktis dan instan, khususnya pada pemelihan makanan, memiliki dampak negatif bagi kesehatan. Makanan cepat saji dengan pemanasan tinggi dan pembakaran merupakan pilihan dominan yang dapat memicu terbentuknya senyawa radikal. Selain itu, peningkatan polutan hasil pembakaran tidak dari kendaraan bermotor dan industri, seperti CO (karbonmonoksida), oksida-oksida, nitrogen dan hidrokarbon merupakan senyawa-senyawa yang rentan teroksidasi menjadi senyawa radikal (Simonne, A. H., et al., 2007). Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga kian bergeser (Dewi, 2007). Bahan pangan yang kini mulai banyak diminati konsumen bukan saja yang mempunyai komposisi gizi yang baik serta penampakan dan citarasa yang menarik, tetapi juga harus memiliki fungsi fisiologis bagi tubuh (Damardjati 2005). Di Indonesia, pengembangan ubi jalar belum mendapat perhatian serius, sebagaimana tercermin dari luas tanaman yang fluktuatif dengan produktivitas yang baru mencapai 9,5 t umbi/ha. Padahal ditingkat penelitian, ubi jalar mampu memberikan hasil hingga 40 t/ha. Senjang hasil ini disebabkan oleh berbagai tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian (Balitkabi) melalui penelitian. Pemuliaan ubi jalar tidak hanya diarahkan pada hasil tinggi, tetapi juga