41 Jurnal Perennial, 4(1) : 41-47 ANALISIS FINANSIAL AGROFORESTRI KAKAO DI LAHAN HUTAN NEGARA DAN LAHAN MILIK Financial Analysis of Cocoa Agroforestry in State Forest Land and Private Land Indra Gumay Febryano ABSTRACT The cultivation of cocoa (Theobroma cacao) has been an important driver of tropical deforestation globally. Efforts to reverse this trend are focusing on the reintroduction of shade trees to cocoa plantations. Shade trees are valuable in enhancing biophysical conditions on cocoa fields and contribute to biodiversity and product diversification for smallholder producers. The aim of this study was to compare financial analysis of cocoa agroforestry between in state forest land and private land. Financial analysis was undertaken to assess its economic viability. Input –output data were collected from farmer by interview and participant observation. A discounted cash flow analysis was carried out to estimate the benefit-cost (B/C) ratio, net present value (NPV), internal rate of return (IRR) at 6,4% discount rate. The results showed that the main combination of planting pattern that consist of cacao and banana (in state forest land), cacao and petai, cacao and durian (in private land) were financially feasible; the largest contribution was given by cacao at all planting patterns based on farmer household revenue structure. Key words: Financial analysis, cocoa, agroforestry, land tenure security PENDAHULUAN Penanaman kakao (Theobroma cacao) merupakan salah satu faktor penting yang mendorong deforestasi hutan tropis secara global. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan tropis tersebut, difokuskan dengan mengintroduksi pohon-pohon naungan pada perkebunan kakao. Kakao yang dinaungi pohon lebih menguntungkan dibandingkan dengan yang tidak dinaungi, tetapi hasil awal dan puncaknya lebih sedikit; dimana pohon-pohon naungan bermanfaat meningkatkan kondisi biofisik kakao dan memberi kontribusi untuk keanekaragaman hayati dan diversifikasi produk untuk petani kecil (Obiri et al. 2007). Nair (1993) menjelaskan bahwa kakao dapat dikombinasikan dengan tanaman kehutanan dalam konsep agroforestri; sehingga di satu sisi masyarakat dapat mendapatkan hasilnya dan di sisi lain konservasi tanah tetap terjaga. Hal ini didukung oleh penelitian Iswandi et al. (1996) di Sulawesi Tenggara bahwa petani mengusahakan kombinasi kakao dengan langsat dan kelapa; serta kombinasi kakao dengan durian dan kelapa. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh di bawah naungan pohon, menyediakan petani sejumlah keuntungan dibandingkan tanaman yang tumbuh di bawah sinar matahari secara penuh. Keuntungan tersebut antara lain memelihara produktivitas untuk periode waktu yang lebih panjang, mengurangi serangan hama dan penyakit, dan mengurangi kebutuhan modal dan tenaga kerja, seperti pupuk, insektisida, dan penyiangan (Purseglove 1968, Young 1989). Keuntungan berikutnya adalah hasil-hasil lainnya, seperti buah-buahan, serat, obat-obatan, dan kayu, yang dapat dipanen jika dibutuhkan ketika harga pasar kakao dan kopi sedang rendah. Petani juga dapat menjalankan aktivitas pertanian lainnya, termasuk menghasilkan tanaman pangan pada sebagian lahan yang tidak menggunakan sistem teknis yang melibatkan bahan-bahan yang harus dibeli, seperti benih, pupuk, pestisida, dan lain-lain, sehingga kurang dipengaruhi fluktuasi harga pasar (Collier et al. 1994, Thrupp 1998). Tanaman yang tumbuh di bawah naungan pohon cenderung untuk ditanam petani kecil yang kekurangan modal untuk mengkonversi sistem pertaniannya menjadi lebih teknis, seperti tanaman yang tumbuh di bawah sinar matahari secara penuh. Terakhir, tanaman yang tumbuh di bawah naungan pohon menyediakan biodiversitas dan fungsi ekosistem yang menguntungkan petani secara keseluruhan (Lenne dan Wood 1999, Perfecto et al.1996).